BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Pendidikan
merupakan suatu proses generasi muda untuk dapat menjalankan kehidupan dan
memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien. Pendidikan lebih
daripada pengajaran, karena pengajaran sebagai suatu proses transfer ilmu
belaka, sedang pendidikan merupakan transformasi nilai dan pembentukan
kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya. Perbedaan pendidikan dan
pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran
dan kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan keahlian.
Dalam
pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam
hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif,
afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi
beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat),
mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling
kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah
laku dari tingkat yang lebih rendah. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh
Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956, sehingga sering pula disebut
sebagai "Taksonomi Bloom".
2.
Rumusan
Masalah
Adapun
rumusan masalah yang kami bahas dalam makalah ini adalah :
1.
Apa pengertian dari taksonomi ?
2.
Jelaskan
maksud dari taksonomi Bloom ?
3.
Jelaskan kategori jenis belajar menurut
Gagne ?
3.
Tujuan
Adapun tujuan makalah ini agar para
mahasiswa diharapkan dapat :
1.
Mengetahui pengertian taksonomi
2.
Memahami taksonomi yang dikemukakan
menurut Bloom dan Gagne.
3.
Menjelaskan kategori jenis belajar
menurut Gagne.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Taksonomi Bloom
Kata Taksonomi
diambil dari bahasa Yunani Tassein yang berarti untuk
mengklasifikasidan nomos yang berarti aturan.
Taksonomi dapat diartikan sebagai klasifikasi berhirarki dari sesuatu, atau
prinsip yang mendasari klasifikasi. Hampir semua ( benda bergerak, benda diam,
tempat, dan kejadian ) dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi.
Dalam pendidikan,
taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini,
tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan
psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori
dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah
laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku
dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat
yang lebih rendah. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom
dan kawan-kawan pada tahun 1956,
sehingga sering pula disebut sebagai "Taksonomi Bloom".
B. S. Bloom bersama rekan-rekannya yang
berpikir sehaluan, menjadi kelompok pelopor dalam menyumbangkan suatu
klasifikasi tujuan instruksional (educational objectives). Pada tahun 1956,
terbitlah karya “Taxonomy of Educational Objectives”, Cognitive Domain”. Pada
tahun 1964, terbitlah karya “Taxonomy of Educational Objectives, Affective
Domain”. Kelompok pelopor ini tidak berhasil menerbitkan suatu taksonomi yang
menyangkut tujuan instruksional di bidang psikomotorik (psychomotor domain).
Orang lainlah yang mengembangkan suatu klasifikasi di bidang ini, antara lain
E. Simpson pada tahun 1967 dan A. Harrow pada tahun 1972.
Adapun suatu taksonomi
adalah merupakan suatu tipe system klasifikasi yang khusus, yang berdasarkan
data penelitian ilmiah mengenai hal-hal yang digolong-golongkan dalam
sistematika itu. Misalnya klasifikasi atas genus dan species terhadap
tumbuh-tumbuhan dan binatang, sebagaimana dikembangkan dalam ruang lingkup
Biologi, sesuailah dengan apa yang diketahui tentang tumbuh-tumbuhan dan
binatang, Sistematika pembagian/penggolongan itu tidak berdasarkan suatu
sistematika yang ditentukan sendiri (yang bersifat arbitrer), sebagaimana
terjadi dalam kartotek perpustakaan, yang mengklasifir buku-buku menurut urutan
abjad nama-nama pengarang, menurut urutan abjad judul-judul buku atau menurut
topik-topik yang dibahas dalam buku-buku itu. Taksonomi-taksonomi di tiga rana
kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang dikembangkan oleh kelompok pelopor
ini dan beberapa orang lain, memang disebut “taxonomy”, tetapi menurut pendapat
beberapa ahli psikologi belajar, mungkin tidak seluruhnya memenuhi tuntutan
suatu taksonomi sebagaimana dijelaskan diatas, khususnya dalam rana kognitif.
Meskipun demikian, nama taksonomi akan tetap dipertahankan di sini, sesuai
dengan sumber-sumber yang asli, kecuali untuk sistematika yang dikembangkan
oleh Simpson dalam rana psikomotorik yang menggunakan nama/judul “klasifikasi”
(classification).
Adapun taksonomi atau klasifikasi adalah
sebagai berikut:
Rana Kognitif :
·
Pengetahuan (Knowledge)
·
Pemahaman (Comprehension)
·
Penerapan (Application)
·
Analisa (Analysis)
·
Sintesa (Syntesis)
·
Evaluasi (Evaluation)
Rana Afektif :
·
Penerimaan (Receiving)
·
Partisipasi (Responding)
·
Penilaian/Penentuan Sikap (Valuing)
·
Organisasi (Organization)
·
Pembentukan Pola Hidup (Characterization
By A Value Or Value Complex).
Rana Psikomotorik :
·
Persepsi (Perception)
·
Kesiapan (Set)
·
Gerakan Terbimbing (Guided Response)
·
Gerakan Yang Terbiasa (Mechanical
Response)
·
Gerakan Yang Kompleks (Complex
Response)
·
Penyesuaian Pola Gerakan (Adaptation)
·
Kreativitas (Creativity)
Rana Kognitif
Kawasan kognitif yaitu kawasan yang berkaitan
aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar terdiri dari :
·
Pengetahuan (Knowledge)
Mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah
dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal-hal itu dapat meliputi fakta, kaidah
dan prinsip, serta metode yang diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam
ingatan, digali pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall) atau
mengenal kembali (recognition). Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan
sebagai berikut : “siswa akan mampu menyebutkan nama semua sekretaris jenderal
PBB, sejak saat PBB mulai berdiri”. Siswa akan mampu menulis semua nama
propinsi di Indonesia, pada peta perbatasan daerah-daerah propinsi”.
·
Pemahaman (Comprehension)
Mencakup
kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya
kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan,
mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain, seperti
rumus matematika ke dalam bentuk kata-kata, membuat perkiraan tentang
kecenderungan yang nampak dalam data tertentu, seperti dalam grafik.
·
Penerapan (Application)
Mencakup
kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu
kasus/problem yang kongkret dan baru. Adanya kemampuan dinyatakan dalam
aplikasi suatu rumus pada persoalan yang belum dihadapai atau aplikasi suatu
metode kerja pada pemecahan problem baru.
·
Analisa (Analysis):
Mencakup
kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga
struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Adanya
kemampuan ini dinyatakan dalam penganalisaan bagian-bagian pokok atau
komponen-komponen dasar, bersama dengan hubungan/relasi antara bagian-bagian
itu.
·
Sintesa (Synthesis):
Mencakup
kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian
dihubungkan satu sama lain, sehingga terciptakan suatu bentuk baru.
·
Evaluasi (Evaluation):
Mencakup
kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal,
bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu, yang berdasarkan kriteria
tertentu. Kemampuan itu dinyatakan dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu,
seperti penilaian terhadap pengguguran kandungan berdasarkan norma moralitas,
atau pernyataan pendapat terhadap sesuatu, seperti dalam menilai tepat-tidaknya
perumusan suatu TIK, berdasarkan kriteria yang berlaku dalam perumusan TIK yang
baik.
Rana Afektif
Pembagian
domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.Kawasan
afektif yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan,
minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya, terdiri dari :
·
Penerimaan (Receiving/Attending) :
Mencakup
kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan
rangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleh
guru.
·
Partisipasi (Responding):
Mengadakan
aksi terhadap stimulus, yang meliputi proses sebagai berikut :
Ø Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding).
Contoh : mengajukan pertanyaan, menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi
pada tembok kamar yang bersangkutan, atau mentaati peraturan lalu lintas.
Ø Kemauan menanggapi (willingness to respond),
yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. Misalnya pada desain
atau warna saja.
Ø Kepuasan menanggapi (satisfaction in response), yaitu
adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan
keinginan mengetahui. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini
adalah bertanya, membuat coretan atau gambar, memotret dari objek yang menjadi
pusat perhatiannya, dan sebagainya.
·
Penilaian/Penentuan Sikap (Valuing)
Mencakup
kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai
dengan penilaian itu. Mulai dibentuk suatu sikap : menerima, menolak atau
mengabaikan, sikap itu dinyatakan dalam tingkah laku yang sesuai dan konsisten
dengan sikap batin.
·
Organisasi (Organization)
Mencakup
kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam
kehidupan. Nilai-nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala
nilai mana yang pokok dan selalu harus diperjuangkan, mana yang tidak begitu
penting. Kemampuan itu dinyatakan dalam mengembangkan suatu perangkat nilai,
seperti menguraikan bentuk keseimbangan yang wajar antara kebebasan dan
tanggung jawab dalam suatu negara demokrasi atau menyusun rencana masa depan
atas dasar kemampuan belajar, minat dan cita-cita hidup.
·
Pembentukan Pola Hidup (Characterization
By A Value Or Value Complex)
Mencakup
kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga
menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas
dalam mengatur kehidupannya sendiri.
Rana Psikomotorik
Kawasan
psikomotor yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang
melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi
psikis. Kawasan ini terdiri dari :
·
Persepsi (Perception)
Mencakup
kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau
lebih, berdasarkan pembedaan antara ciri-ciri fisik yang khas pada
masing-masing rangsangan. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam suatu reaksi
yang menunjukkan kesadaran akan hadirnya rangsangan (stimulasi) dan perbedan
antara rangsangan-rangsangan yang ada, seperti dalam menyisihkan benda yang
berwarna merah dari yang berwarna hijau.
·
Kesiapan (Set)
Mencakup
kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu gerakan
atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini dinyatakan dalam bentuk kesiapan jasmani
dan mental, seperti dalam mempersiapkan diri untuk menggerakkan kendaraan yang
ditumpangi, setelah menunggu beberapa lama di depan lampu lalu lintas yang berwarna
merah.
·
Gerakan Terbimbing (Guided Response)
Mencakup
kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik, sesuai dengan contoh
yang diberikan (imitasi). Kemampuan ini dinyatakan dalam mengerakkan anggota
tubuh, menurut contoh yang diperlihatkan atau diperdengarkan, seperti dalam
meniru gerakan-gerakan tarian atau dalam meniru bunyi suara.
·
Gerakan
Yang Terbiasa (Mechanism Response)
Mencakup
kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik dengan lancar, karena
sudah dilatih secukupnya, tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan.
Kemapuan ini dinyatakan dalam menggerakkan anggota-anggota tubuh, sesuai dengan
prosedur yang tepat, seperti dalam menggerakkan kaki, lengan dan tangan secara
terkoordinir.
·
Gerakan Kompleks (Complex Response)
Mencakup
kemampuan untuk melaksanakan suatu ketrampilan yang terdiri atas beberapa
komponen, dengan lancar, tepat dan efisien. Adanya kemampuan ini dinyatakan
dalam suatu rangkaian perbuatan yang berurutan dan menggabungkan beberapa
subketrampilan menjadi suatu keseluruhan gerak-gerik yang teratur, seperti
dalam membongkar mesin mobil dalam bagian-bagiannya dan memasangnya kembali.
·
Penyesuaian Pola Gerakan (Adaptation)
Mencakup
kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak-gerik dengan
kondisi setempat atau dengan persyaratan khusus yang berlaku. Adanya kemampuan
ini dinyatakan dalam menunjukkan suatu taraf ketrampilan yang telah mencapai
kemahiran, misalnya seorang pemain tenis yang menyesuaikan pola permainannya
dengan gaya bermain dari lawannya atau dengan kondisi lapangan.
·
Kreativitas (Creativity)
Mencakup
kemampuan untuk melahirkan pola-pola gerak-gerik yang baru, seluruhnya atas
dasar prakarsa dan inisiatif sendiri. Hanya orang-orang yang berketrampilan
tinggi dan berani berpikir kreatif, akan mempu mencapai tingkat kesempurnaan
ini, seperti kadang-kadang dapat disaksikan dalam pertunjukan tarian di lapisan
es dengan diiringi musik instrumental.
2.2 TEORI BELAJAR GAGNE
Robert M. Gagne adalah seorang ahli psikologi
pendidikan yang mengembangkan pendekatan perilaku yang eklektik. Teori belajar
yang dikembangkannya dapat dikelompokkan menjadi tiga macam konsep belajar
yaitu:
A. Hasil Belajar Gagne,
B. Kejadian-kejadian
Belajar, dan
C. Kejadian-kejadian
Intruksi.
A. Hasil-hasil Belajar
Gagne.
Dalam
mengajar kita harus merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran itulah
yang akan kita jadikan sebagai tolak ukur dari hasil belajar siswa. Gagne
memaparkan lima tujuan belajar yang bersifat kognitif, psikomotor, dan afektif.
Hasil
belajar ini berwujud penampilan-penampilan yang disebut kemampuan-kemampuan
(capabilities). Di antaranya bersifat kognitif, yaitu:
1.
Keterampilan Intelektual
Termasuk
dalam keterampilan intelektual adalah diskriminasi-diskriminasi, konsep-konsep
konkret, konsep terdefinisi, aturan-aturan, dan aturan-aturan tingkat tinggi.
·
Diskriminasi-diskriminasi, merupakan suatu konsep kemampuan untuk
mengadakan respons-respons yang berbeda terhadap stimulus-stimulus yang berbeda
dalam satu atau lebih dimensi fisik.
·
Konsep-konsep konkret, menunjukkan suatu sifat objek atau atribut
objek. Dalam hal ini diyakini bahwa penampilan manusia merupakan sebuah konsep
yang konkret. Belajar konkret merupakan prasyarat dari belajar abstrak.
·
Konsep terdefinisi, mensyaratkan kemampuan mendemonstrasikan arti
dari kelas tertentu tentang objek-objek, kejadian-kejadian, atau
hubungan-hubungan.
·
Aturan-aturan, menunjukkan bagaimana penampilan mempunyai semacam
"keteratuan" dalam berbagai situasi khusus. Dalam hal ini konsep
terdefinisi merupakan merupakan suatu bentuk khusus dari aturan yang bertujuan
untuk mengelompokkan objek-objek, dan kejadian-kejadian. Dapat pula dikatakan
bahwa konsep terdefinisi merupakan suatu aturan pengklasifikasian.
·
Aturan-aturan tingkat tinggi, merupakan gabungan dari berbagai
aturan-aturan sederhana yang dipergunakan untuk memecahkan masalah.
Aturan-aturan yang kompleks atau aturan-aturan tingkat tinggi ditemukan untuk
memecahkan suatu masalah praktis atau sekelompok masalah.
·
Strategi-strategi kognitif Strategi-strategi
menghafal, yaitu siswa melakukan latihan tentang materi yang dipelajari dalam
bentuk pengulangan terus-menerus.
·
Strategi-strategi elaborasi, yaitu siswa mengasosiakan hal-hal
yang akan dipelajari dengan bahan-bahan lain yang tersedia. Misalnya
mempelajari puisi dengan cara memparafrasekan puisi tersebut.
·
Strategi-strategi pengaturan, yaitu mempelajari materi dengan
menyusun kerangka yang teratur dari materi tersebut.
·
Strategi-strategi metakognitif, meliputi kemampuan siswa untuk
menentukan tujuan belajar, memperkiran keberhasilan pencapain tujuan itu, dan
memilih alternatif untuk mencapai tujuan itu.
2.
Strategi-strategi Kognitif
Stategi-strategi
kognitif merupakan suatu proses kontrol, yaitu proses internal yang digunakan
siswa (orang yang belajar) untuk memilih dan mengubah cara-cara memberikan
perhatian, belajar mengingat, dan berpikir.
Ø Strategi-strategi
menghafal, yaitu siswa melakukan latihan tentang materi yang dipelajari dalam
bentuk pengulangan terus-menerus.
Ø Strategi-strategi
elaborasi, yaitu siswa mengasosiakan hal-hal yang akan dipelajari dengan
bahan-bahan lain yang tersedia. Misalnya mempelajari puisi dengan cara
memparafrasekan puisi tersebut.
Ø Strategi-strategi
pengaturan, yaitu mempelajari materi dengan menyusun kerangka yang teratur dari
materi tersebut.
Ø Strategi-strategi
metakognitif, meliputi kemampuan siswa untuk menentukan tujuan belajar,
memperkiran keberhasilan pencapain tujuan itu, dan memilih alternatif untuk
mencapai tujuan itu.
Ø Strategi-strategi
afektif, yaitu teknik yang digunakan siswa untuk memusatkan dan mempertahankan
perhatian, mengendalikan kemarahan dan menggunakan waktu secara efektif.
3.
Informasi Verbal
Informasi verbal adalah
informasi yang diperoleh dari belajar di sekolah, kata-kata yang diucapkan
orang, membaca, radio, televisi, dan media yang lain.
4.
Sikap-sikap
Sikap-sikap
yang umum biasanya disebut dengan nilai. Sikap-sikap ini ditujukan pada
perilaku-perilaku sosial seperti kata-kata kejujuran, dermawan, dan
istilah-istilah lain yang lebih moralitas.
5.
Keterampilan-keterampilan motorik
Keterampilan
motorik tidak hanya meliputi kegiatan fisik, tetapi jugakegiatan-kegiatan
motorik yang digabungkan dengan kegiatan-kegiatan intelektual, misalnya membaca
dan menulis.
B.
Kejadian-kejadian Belajar
Kejadian-kejadian belajar merupakan fasa-fasa
belajar yang terdiri atas fasa motivasi, pengenalan, pemerolehan, retensi,
pemanggilan, generalisasi,penampilan, dan umpan balik.
C.
Kejadian-kejadian Instruksi
Menurut Gagne bukan
hanya guru yang dapat memberikan instruksi; kejadian-kejadian instruksi dapat
pula diterapkan pada belajar penemuan, belajar di luar kelas atau belajar di
dalam kelas. Tetapi kejadian instruksi yang dikemukakan Gagne merupakan
kejadian-kejadian instruksi yang terjadi pada guru ketika menyampaiakan
pelajaran pada sekelompok siswa. Yang termasuk dalam kejadian-kejadian
instruksi tersebut antara lain adalah:
1. Mengaktifkan motivasi
(activating motivation).
2. Memberi tahu
tujuan-tujuan belajar.
3. Mengarahkan perhatian
(directting attention).
4. Merangsang ingatan
(stimulating recall).
5. Menyediakan bimbingan
belajar.
6. Meningkatkan retensi
(enhancing retention).
7. Melancarkan transfer
belajar, dan
8. Mengeluarkan penampilan;
memberikan umpan balik.
1.
Mengaktifkan motivasi
Kejadian ini merupakan
langkah pertama dalam setiap pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan
tujuan memberikan motivasi belajar pada siswa.
2. Memberi tahu tujuan-tujuan belajar
Pada langkah kedua ini
guru menyampaikan tujuan belajar agar siswa mengetahui latar belakang
penyampaian materi serta mengetahui apa yang akan dipelajari. Tahap ini
biasanya dirumuskan dengan tujuan instruksional khusus/tujuan pembelajaran
3. Mengarahkan perhatian
Gagne mengemukakan dua bentuk
perhatian yaitu perhatian yang berbentuk stimulus dan perhatian yang berbentuk
persepsi selektif.
4. Merangsang ingatan
Mengingat pelajaran yang
telah lampau dengan cara pemberian kode pada informasi yang berasal dari memori
jangka pendek. Guru dapat melakukannya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan
yang merupakan suatu pengulangan.
5. Menyediakan bimbingan belajar
Bimbingan belajar ini
dimaksudkan untuk memperlancar masuknya informasi ke memori jangka panjang.
Dapat dilakukan dengan mengaitkan informasi baru pada pengalaman siswa.
6. Meningkatkan retensi
Retensi atau bertahannya
materi dapat dilakukan dengan banyak kali pengulangan terhadap materi tersebut.
7. Membantu
transfer belajar
Tujuan transfer belajar
ialah menerapkan apa yang telah dipelajari pada situasi baru. Pada transfer
belajar diperlukan penguasaan konsep-konsep, fakta-fakta,
keterampilan-keterampilan oleh para siswa
8. Mengeluarkan penampilan dan
memberikan umpan balik
Guru memberikan
kesempatan sedini mungkin pada siswa untuk memperlihatkan hasil belajar mereka,
agar dapat diberi umpan balik, sehingga pelajaran selanjutnya berjalan dengan
lancar.
BAB III
PENUTUP
1.1.
Kesimpulan
Kata
taksonomi diambil dari bahasa Yunani yaitu “tassein” yang berarti untuk
mengklasifikasi dan “nomos” yang berarti aturan. Taksonomi dapat diartikan
sebagai klasifikasi berhirarki dari sesuatu, atau prinsip yang mendasari
klasifikasi. Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian, sampai
pada kemampuan berfikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema
taksonomi. Pendidikan lebih daripada pengajaran, karena pengajaran sebagai
suatu proses transfer ilmu belaka, sedang
pendidikan merupakan transformasi nilai dan pembentukan kepribadian
dengan segala aspek yang dicakupnya. Perbedaan pendidikan dan pengajaran
terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran dan
kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan keahlian.
Taksonomi
pendidikan lebih dikenal dengan sebutan “Taksonomi Bloom”. Taksonomi ini
pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan. Dalam pendidikan,
taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini,
tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan
psikomotor.
Selain
itu Gagne juga mengemukakan pendapatnya mengenai pembelajaran, menurutnya
pembelajaran adalah seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap
individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari persitiwa
eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi) artinya proses
pembelajaran tidak hanya di dalam satuan atau lembaga pendidikan saja tetapi
sebenarnya pembelajaran berasal dari lingkungan sehari-hari kita.
1.2. Saran
Pendidikan
sangat penting di era modern ini. Maka untuk menempuh pendidikan yang sukses
perlu adanya teknik belajar dan pembelajaran yang baik dan menarik agar mereka
yang belajar memiliki jiwa semangat tinggi untuk terus belajar dan menjadi
generasi bangsa yang cerdas. Kami juga berharap semoga makalah ini bermanfaat
bagi pembaca dan kami berharap kritik dan saran yang bersifat positif untuk
kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Dahara,Ratna
wilis.2006.Teori-Teori Belajar Dan
Pembelajaran.Bandung.Erlangga.
Sagala,Syaiful.2010.Konsep Dan Makna Pembelajaran.Bandung.Alfabeta.
Wiranataputra,Udin.S.dkk.2007.Teori Belajar Dan Pembelajaran.Jakarta.Universitas
Terbuka.
Revisi
taksonomi Bloom atau Revised Bloom Taxonomy, dari http://www.hilman.web.id/posting/blog/852/revisi-taksonomi-bloom,diakses
tanggal 9 Oktober 2014.
Taksonomi
Bloom-wikipedia bahasa Indonesia,ensiklopedia bebas, dari http://id.wikipedia.org/wiki/taksonomi
Bloom diakses tanggal 9 Oktober 2014
Taksonomi
Gagne-wikipedia bahasa Indonesia,ensiklopedia bebas, dari
http://id.wikipedia.org/wiki/taksonomi
Bloom diakses tanggal 9 Oktober 2014

mawar cantik design ,,,,,, kreatif nian maw
BalasHapus