Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai
periode “ badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan keterangan emosional
sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar.Pola emosi remaja adalah sama
dengan pola emosi masa kanak-kanak.
Jenis emosi yang secara normal dialami adalah : cinta/kasih sayang, gembira,
amarah, takut, dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaannya terletak
pada macam dan derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya, dan khususnya
pola pengendalian yang dilakukan individu terhadapat ungkapan emosi mereka.i
orang lain. Kemampuan untuk memberinya.
Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi
sangat penting, walaupun kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan
secara rapi. Para remaja yang berontak secara terang-terangan, nakal dan
mempunyai sikap permusuhan besar kemungkinannya disebabkan oleh kurangnya rasa
cinta dan dicintai yang tidak disadari.
berikut bisa kita lihat apa apa saja yang mempengaruhi perkembangan afektif pada remaja..
berikut bisa kita lihat apa apa saja yang mempengaruhi perkembangan afektif pada remaja..
Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
Pada masa
sekarang ini Perkembangan emosi bergantung pada faktor kematangan dan faktor
belajar (Hurlock, 1960;266). Reaksi emosional yang tidak muncul pada
awal kehidupan tidak berarti tidak ada, reaksi tersebut mungkin akan muncul
dikemudian hari, dengan berfungsinya sistem endokrin. Kematangan dan belajar
terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi.
Metoda
belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain adalah :
1.
Belajar
dengan coba-coba
Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan
emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya, dan
menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak
memberikan kepuasan.
2.
Belajar
dengan cara meniru
Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi
orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama
dengan orang-orang yang diamati.
3.
Belajar
dengan cara mempersamakan diri (learning by identification)
Anak menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah
oleh rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Disini anak
hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat
dengannya.
4.
Belajar
melalui pengkondisian
Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal
memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi.
Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan
karena anak kecil kurang mampu menalar, kurang pengalaman untuk menilai situasi
secara kritis, dan kurang mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka.
Setelah melewati masa kanak-kanak, penggunaan metode pengkondisian semakin
terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.
5.
Pelatihan atau belajar di bawah
bimbingan dan pengawasan terbatas pada aspek reaksi. Kepada anak diajarkan cara
bereaksi yang dapat diterima jika sesuatu emosi terangsang. Dengan pelatihan,
anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya
membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara
emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan.
6.
Anak memperhalus ekspresi-ekspresi
kemarahannya atau emosi lain ketika ia beranjak dari masa kanak-kanak ke masa
remaja. Mendekati berakhirnya usia remaja, seorang anak telah melewati banyak
badai emosional yang lebih tenang yang mewarnai pasang surut kehidupannya, ia
juga telah belajar dalam seni menyembunyikan perasaan-perasaannya. Jadi, emosi
yang ditunjukkan mungkin merupakan selubung bagi yang disembunyikan Kondisi-kondisi
kehidupan atau kulturlah yang menyebabkan ia merasa perlu menyembunyikan
perasaan-perasaannya. Kenyataan bahwa para remaja kadang-kadang tidak
mengetahui perasaan mereka atau tidak mampu menghayati perasaan mereka.
Orang tua dan guru-guru hendaknya menyadari bahwa
perubahan ekspresi yang tampak ini tidak berarti bahwa emosi tidak lagi
berperan dalam kehidupan anak muda. Ia tetap membutuhkan perangsang-perangsang
yang memadai untuk pengembangan-pengembangan pengalaman emosional. Karena anak
tumbuh dalam kekuatan fisik dan pemahaman, responnya berbeda terhadap apa yang
sebelumnya dianggap sebagai ancaman atau rintangan cita-citanya. Ia pada
akhirnya perlu mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan tingkah lakunya dengan
apa yang sedang terjadi padanya.
Hubungan
Antara Emosi dan Tingkah Laku serta Pengaruh Emosi Terhadap Tingkah Laku
Gangguan emosi dapat menjadi penyebab kesulitan
berbicara. Hambatan-hambatan dalam berbicara tertentu telah ditemukan bahwa
tidak disebabkan oleh kelainan dalam organ berbicara. Ketegangan emosional yang
cukup lama mungkin menyebabkan seseorang gagap. Seorang gagap seringkali
relative dapat normal dalam berbicara, apabila mereka dalam keadaan relaks atau
senang. Bila dia dihadapkan kepada situasi-situasi yang menyebabkan ia kebingungan,
dapat terjadi ia akan menunjukkan ketidak normalan dalam bicara. Sikap – sikap
takut, malu–malu atau agresif dapat merupakan akibat dari ketegangan emosi atau
frustasi dan dapat muncul dengan hadirnya individu tertentu atau
situasi-situasi tertentu. Justru karena reaksi kita berbeda-beda terhadap
setiap oarnag yang kita jumpai, mak jika kita merespon dengan cara yang sangat
khusus terhadap hadirnya individu-individu tertentu akan merangsang timbulnya
emosi tertentu.
Contoh Masalah Siswa Dalam Perkembangan
Afektif
Emosional.
Seorang siswa tidak senang kepada gurunya bukan karena
pribadi guru, namun bisa disebabkan sesuatu yang terjadi pada anak sehubungan
dengan situasi kelas. Jika ia merasa malu karena gagal dalam menghapal bahan
pelajaran di muka kelas, pada kesempatan lain ia mungkin takut untuk
berpartisipasi dalam kegiatam menghapal. Akibatnya ia mungkin memutuskan untuk
membolos, atau mungkin ia melakukan kegiatan yang lebih jelek lagi yaitu
melarikan diri dari semuanya itu, dari orang tuanya, guru-gurunya, atau dari
otoritas-otoritas lain. Penderitaan emosional dan frustasi mempengaruhi
efektivitas belajar. Faktor-faktor afektif dalam pengalaman individu
mempengaruhi jumlah dan luasnya apa yang dipelajari. Seorang anak di sekolah
akan belajar lebih efektif bila ia termotivasi, karena ia merasa perlu belajar.
Sekali hal ini ada pada dirinya, selanjutnya ia akan mengembangkan usahanya
untuk menguasai bahan yang dipelajari. Jika telah ada rasa senang karena
berhasil mencapai prestasi, hal ini akan mengurangi rasa akan kelelahan.
Cara memotivasi nya yaitu memusatkan perhatian pada
apa yang ia sedang kerjakan dan dengan cara itu berarti ia akan memperoleh
kepuasan. Karena reaksi setiap pelajar tidak sama, rangsangan untuk belajar
yang diberikan harus berbeda-beda dan disesuaikan dengan kondisi anak. Dengan
demikian, rangsangan-rangsangan yang menghasilkan perasaan yang tidak
menyenangkan, akan sangat mempengaruhi hasil belajar dan demikian pula
rangsangan yang menghasilkan perasaan yang menyenangkan akan mempermudah siswa
belajar.
Kemudian ada lagi permasalahan perkembangan afektif
yamg Dalam kaitannya dengan emosi remaja awal yang cenderung banyak melamun dan
sulit diterka, maka satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh guru adalah
konsisten dalam pengelolaan kelas dan memperlakukan siswa seperti orang dewasa
yang penuh tanggung jawab. Guru-guru dapat membantu mereka yang bertingkah laku
kasar dengan jalan mencapai keberhasilan dalam pekerjaan/tugas-tugas sekolah
sehingga mereka menjadi anak yang lebih tenang dan lebih mudah ditangani. Salah
satu cara yang mendasar adalah dengan mendorong mereka untuk bersaing dengan
diri sendiri.
Apabila ada ledakan-ledakan kemarahan sebaiknya kita
memperkecil ledakan emosi tersebut, misalnya dengan jalan tindakan yang
bijaksana dan lemah lembut, mengubah pokok pembicaraan, dan memulai aktivitas
baru. Jika kemarahan siswa tidak juga reda, guru dapat minta bantuan kepada
petugas bimbingan penyuluhan. Dalam diskusi kelas, tekankan pentingnya
memperhatikan pandangan orang lain dalam mengembangkan/meningkatkan pandangan
sendiri. Kita hendaknya waspada terhadap siswa yang sangat ambisius,
berpendirian keras, dan kaku yang suka mengintimidasi kelasnya sehingga tidak
ada seseorang yang berani tidak sependapat dengannya atau menentangnya.
Remaja ada dalam keadaan yang membingungkan dan serba
sulit. Dalam banyak hal ia tergantung pada orangtua dalam keperluan-keperluan
fisik dan merasa mempunyai kewajiban kepada pengasuhan yang mereka berikan dari
saat dia tidak mampu memelihara dirinya sendiri. Namun ia harus lepas dari
orangtuanya agar ia menjadi orang dewasa yang mandiri, sehingga adanya konflik
dengan orangtua tidak dapat dihindari. Apabila terjadi friksi semacam ini, para
remaja mungkin merasa bersalah, yang selanjutnya dapat memperbesar jurang
antara dia dengan orangtuanya.
Seorang
siswa yang merasa bingung terhadap rantau peristiwa tersebut mungkin merasa
perlu menceritakan penderitaannya, termasuk mungkin rahasia-rahasia pribadinya
kepada orang lain. Karena itu seorang guru diminta untuk berfungsi dan bersikap
seperti pendengar yang simpatik. Siswa sekolah menengah atas banyak mengisi
pikirannya dengan hal-hal yang lain daripada tugas-tugas sekolah. Misalnya
seks, konflik dengan orangtua, dan apa yang akan dilakukan dalam hidupnya
setelah ia tamat sekolah. Salah satu persoalan yang paling membingungkan yang
dihadapi oleh guru ialah bagaimana menghadapi siswa yang hanya mempunyai
kecakapan terbatas tetapi yang selalu memimpikan kejayaan. Seorang guru tidak
ingin membuat mereka putus asa, tetapi jika ia mendorong siswa tersebut.
Di dalam usaha membentuk tingakah laku sebagai
pencerminan nilai-nilai hidup tertentu ternyata bahwa faktor lingkungan
memegang peranan penting. Diantara segala unsur lingkungan sosial yang berpengaruh,
yang tampaknya sangat penting adalah unsur lingkungan berbentuk manusia yang
langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari
nilai-nilai tertentu. Dalam hal ini lingkungan sosial terdekat yang terutama
terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan pembina. Makin jelas
sikap dan sifat lingkungan terhadap nilai hidup tertentu dan moral makin kuat
pula pengaruhnya untuk membentuk (atau meniadakan) tingkah laku yang sesuai.
Jadi kita Sebagai orangtua/guru hendaklah memahami
kondisi anak dan perkembangan emosional anak ketika memasukin masa remaja. Agar
dapat memahami kondisi tersebut hendaklah orang mengadakan pendekatan terhadap
anak tentang apa yang ia rasakan. Dan anak pun hendaklah menjadi lebih terbuka
serta berusaha mengendalikan emosional pada dirinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar