picture widgets
Blogger Widgets

SUKSES BERMULA DARI FIKIRAN KITA

Sukses adalah kondisi pikiran kita. Bila Anda menginginkan sukses, maka Anda harus mulai berpikir bahwa Anda sukses, dan mengisi penuh pikiran Anda dengan kesuksesan.Orang-orang yang sukses hidup dengan lengkap. Mereka bahagia dan penuh rasa syukur dan cinta terhadap segala sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka sudah menemukan tujuan hidup mereka dan menunaikan misi mereka di dunia ini dengan baik, sehingga dunia ini menjadi tempat yang lebih baik dari pada ketika mereka belum datang. Dunia menjadi lebih baik karena orang-orang yang sukses ini selalu melihat potensi terbaik dalam diri semua manusia di sekitar mereka, dan mereka selalu memberikan yang terbaik pula yang mereka punya kepada dunia.

My images

My images

Minggu, 21 Desember 2014

Makalah Evaluasi tentang kemampuan berfikir kreatif siswa




MAKALAH  EVALUASI TENTANG KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIKA SISWA KELAS XII PADA MATERI MATRIKS DI SMA BINA JAYA PALEMBANG


Disusun oleh

            Nama               : Mawarni Agustini     (2012 121 053)
Kelas              : 5.B


ABSTRAK

Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa Kelas XII  SMA BINA JAYA PALEMBANG, pada Materi Matriks.  Adapun tujuan dalam penelitian ini, untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa kelas XII  SMA BINA JAYA pada Materi Matriks
Untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif, ada empat indikator yaitu: (a) kemampuan berpikir lancar,(b)kemampuan berpikir luwes, (c) kemampuan berpikir kebaruan, dan (d) kemampuan menarik kesimpulan (elaborasi), yang mana disini menggunakan dua instrumen penelitian yatu: (a) tes yang disusun oleh peneliti sendiri, yang sudah divalidasi isi (diuji cobakan) dan sudah divalidasi konstruksi melalui dosen ahli dan (b) melihat kemampuan siswa dengan tingkat kemampuan berpikir kreatif yang tinggi, sedang, dan rendah dilihat dari jawaban mereka melalui tes yang diberikan.Dari hasil penelitian ini, menyimpulkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa kelas XII.IPA masih rendah.






BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kreatifitas dapat dipandang sebagai produk dari berpikir kreatif, sedangkan aktivitas kreatif merupakan kegiatan dalam pembelajaran yang diarahkan untuk mendorong atau memunculkan kreativitas siswa. Aktivitas kreatif adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk mendorong atau memunculkan kretivitas siswa. Melalui belajar matematika, siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berfikir logis, kritis, analitis, kreatif, dan produktif. Akan tetapi, berbagai fakta yang ditemukan dalam pembelajaran matematika, yang menjadikan siswa tersebut kurang berpikir kreatif. Pertama perasaan takut gagal, karena biasanya siswa yang mengalami kegagalan dalam menyelesaikan soal matematika yang diberikan oleh guru hukumannya lebih berat dibandingkan dengan hadiah untuk keberhasilannya dalam menyelesaikan soal tersebut.

Rumusan masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, masalah yang teridentifikasi adalah:
1. Siswa belum terbiasa dalam memecahkan soal matematika yang bersifat terbuka.
2. Guru cenderung prosedural dan lebih menekankan pada hasil belajar.
3. Siswa belajar sesuai dengan contoh yang diberikan oleh guru.
4. Soal yang diberiakan kepada siswa hanya soal-soal langsung pada pemakain rumus yang sudah ada.
Berdasarkan masalah dan identifikasi masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa Kelas XII pada Materi  Matriks di SMA Bina Jaya Palembang”.



Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa.
Adapun tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Guru
hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terhadap guru mata pelajaran untuk dapat mengetahui tingkat kreatifitas siswa, khususnya pada pelajaran matematika.
2. Bagi Siswa
hasil penelitian ini diharapkan dapat memotivasi siswa untuk belajar dan lebih proaktif dalam proses pembelajaran sehingga mampu mengatur waktu belajar dengan baik.
3. Bagi Peneliti
Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan tentang berpikir kreatif matematika siswa.
Kreatifitas adalah potensi alamiah dalam diri anak yang harus dikembangkan secara optimal. Kreativitas itu sendiri ditumbuhkan oleh otak kanan, yaitu bagian otak yang memiliki spesifikasi berfikir, mengolah data seputar perasaan, emosi, seni dan musik. Semua anak yang lahir di dunia ini mempunyai sisi kreativitas, tapi dalam kadar yang berbeda. Tinggi rendahnya kreativitas anak dipengaruhi oleh dua hal, yaitu faktor genetika bawaan dan faktor lingkungan.














BAB II
PEMBAHASAN

Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan tentang berpikir kreatif matematika siswa.
Kreatifitas adalah potensi alamiah dalam diri anak yang harus dikembangkan secara optimal. Kreativitas itu sendiri ditumbuhkan oleh otak kanan, yaitu bagian otak yang memiliki spesifikasi berfikir, mengolah data seputar perasaan, emosi, seni dan musik. Semua anak yang lahir di dunia ini mempunyai sisi kreativitas, tapi dalam kadar yang berbeda. Tinggi rendahnya kreativitas anak dipengaruhi oleh dua hal, yaitu faktor genetika bawaan dan faktor lingkungan.
1. Pengertian Kreativitas
Menurut pandangan Campbell (dalam Ambarjaya: 35) kreativitas adalah suatu ide atau pemikiran manusia yang bersifat inovatif, berdaya guna, dan dapat dimengerti. Definisi senada juga dikemukakan oleh Drevdahll (dalam Ambarjaya: 35) kreativitas adalah kemampuan seseorang menghasilkan gagasan baru berupa kegiatan atau sintesis pemikiran yang mempunyai maksud dan tujuan yang ditentukan, bukan fantasi semata.

2. Kreativitas pada Anak
Ada tiga ciri dominan pada anak yang kreatif; (1) spontan, (2) rasa ingin tahu, dan (3) tertarik pada hal-hal baru. Ternyata ketiga ciri tersebut terdapat pada diri anak. Berarti semua anak pada dasarnya adalah kreatif, faktor lingkunganlah yang menjadikan anak tidak kreatif. Usia dini atau disebut juga usia prasekolah merupakan suatu masa ketika anak-anak belum memasuki pendidikan formal. Oleh karena itu pada rentang usia dini adalah saat yang tepat untuk mengembangkan kreativitas anak.
Ada beberapa faktor yang menghambat perkembangan kreativitas anak, antara lain:
1. Perasaan takut gagal,
2. Terlalu terpaku pada tata tertib dan tradisi,
3. Enggan bermain dan terlalu mengharapkan hadiah jika dihadapkan pada tugas tertentu,
4. Orang tua yang terlalu melindungi anak dan ini biasanya banyak terjadi pada anak pertama sehingga kesempatan bagi dirinya untuk belajar justru berkurang. Orang tua tanpa sadar, sering memaksakan anak menyesuaikan diri dengan imajinasi dan fantasi sebagai orang tua.

3. Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif merupakan kegiatan mental yang dialami sesorang bila mereka dihadapkan pada suatu masalah atau situasi yang dipecahkan. Berpikir merupakan proses dinamis yang dpat di lukiskan menurut proses atau jalannya. Proses berpikir pada pokoknya terdiri atas 3 langkah, yaitu pembentukan pengertian, pembentukan pendapat, dan penarikan kesimpulan.
Evens (dalam Tatag 2010 : 29) menjelaskan bahwa berpikir kreatif adalah suatu aktivitas mental untuk membuat hubungan-hubungan (conections) yang terus menerus (kontinu), sehingga ditemukan kondisi yang “benar” atau sampai seseorang itu menyerah. Berpikir kreatif mengabaikan hubungan-hubungan yang sudah mapan, dan menciptakan hubungan-hubungan tersendiri. Dari pengertian ini menunjukan bahwa berpikir kreatif merupakan kegiatan mental untuk menemukan suatu kombinasi yang belum dikenal sebelumnya.

4. Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif (TKBK)   
Tingkat 1 merupakan tingkat berpikir kreatif rendah, karena hanya mengekspresikan terutama kesadaran siswa terhadap keperluan menyelesaikan tugasnya saja. Tingkat 2 menunjukan berpikir kreatif yang lebih tinggi karena siswa harus menunjukan bagaimana mereka mengamati sebuah implikasi pilihannya, seperti penggunaan matriks. Tingkat 3 merupakan tingkat yang lebih tinggi berikutnya karena siswa harus memilih suatu strategi dan mengkoordinasikan antara bermacam-macam penjelasan dalam tugasnya. Mereka harus memutuskan bagaimana tingkat detil yang diinginkan dan bagaimana menyajikan urutan tindakan atau kondisi-kondisi logis dari sistem tindakan. Tingkat 4 merupakan tingkat berfikir sedang karena siswa harus membandingkan dengan sekumpulan tujuan.

5. Berpikir Kreatif dalam Matematika
Haylock (dalam Tatag, 2010 :42) mengatakan bahwa dalam konteks matematika, kriteria kelancaran tampak kurang berguna disbanding dengan keluwesan. Dalam menilai kemampuan berpikir kreatif anak-anak dan orang dewasa sering digunakan “The Torrance Test of Creative Thingking (TTCT)” yang disusun oleh Paul Torrence. Tiga komponen kunci yang di nilai dalam kreativitas menggunakan TTCT adalah kelancaran, keluwesan, dan kebaruan. Kelancaran mengacu pada banyaknya ide-ide yang dibuat dalam merespons sebuah perintah. Keluwesan terlihat pada perubahan-perubahan pendekatan ketika merespons perintah. Kebaruan merupakan keaslian ide yang dibuat dalam meresepon perintah (Murniati, 2012: 58). Untuk lebih jelasnya ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif matematis sebagaimana di ungkapkan oleh Munandar (dalam Tatag, 2010:36) yaitu:

1. Keterampilan Berpikir Lancar (Fluency)
Ciri-ciri keterampilan berpikir lancar adalah mencetuskan banyak ide, jawaban, penyelesaian masalah, atau pertanyaan, memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal , selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.
2. Keterampilan Berpikir Luwes (Flexibility)
Ciri berpikir luwes adalah menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda, mencari banyak alternative atau arah yang berbeda-beda, mampu mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran.
3. Keterampilan Berpikir Orisinil Kebaruan (Originality)
Ciri-ciri berpikir orisinil adalah mampu melahirkan ungkapan yang berbeda dan unik, memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri, mampu membuat kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4. Keterampilan Memperinci (Elaboration)
Ciri-ciri keterampilan memperinci adalah mmpu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk, menambahkan atau memperinci secara detil subjek, gagasan atau situasisehingga menjadi lebih menarik.
Mengacu pada pengertian berpikir kreatif secara umum dan indikator kemampuan berpikir kreatif matematika di atas, maka berpikir kreatif diartikan sebagai suatu kegiatan mental yang digunakan seseorang untuk membangun ide atau gagasan yang baru secara lancar dan luwes. Ide dalam pengertian disini adalah ide dalam memecahkan masalah matematika dengan tepat.


METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA BINA JAYA PALEMBANG kelas XII.IPA.1, jln Ki. Merogan lorong Ngabehi kecamatan kertapati Palembang. Waktu penelitian ini  dilaksanakan pada semester ganjil, tahun pelajaran 2013/2014 selama ± 1 hari yang bertepatan pada hari Sabtu tanggal 8 November 2014.

Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tentang kemampuan berpikir kreatif matematika siswa terhadap pembelajaran matematika. Penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia (Sukmadinata, 2009: 72).
Data dalam penelitian berupa data primer tentang kemampuan berpikir kreatif matematika siswa terhadap pembelajaran matematika. Adapun yang menjadi sumber data pada penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA BINA JAYA PALEMBANG Tahun Pelajaran 2013/2014.
Variabel dalam penelitian ini hanya satu yaitu kemampuan berpikir kreatif siswa terhadap pembelajaran matematika.
Pengumpulan data akan dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Pemberian Tes
Tes yang akan diberikan untuk menjaring informasi yang berkaitan dengan berpikir kreatif matematika siswa. Pemberian tes sebagai alat bantu untuk mengumpulkan data dengan memberikan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang sudah memenuhi syarat-syarat sebagai alat ukur yang baik, yaitu validasi dan reliabilitas. Pertanyaan-pertanyaan yang termuat dalam satu tes uraian yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan, bentuk tes uraian ini menuntut kemampuan siswa berpikir secara kreatif. Sebelum tes diedarkan pada anggota
sampel, terlebih dahulu dilakukan verifikasi terhadap tes tersebut yaitu terdiri dari
validasi dan reliabitas. Validasi adalah keadaan yang menggambarkan bahwa
tingak instrument yang bersangkutan mampu mengukur apa yang akan diukur.
Reliabilitas adalah pengujian yang dilakukan untuk mendeteksi apakah instrumen
yang digunakan apakah instrument yang digunakan untuk menjaring data benar-benar
meyakinkan sebagai instrument pengumpul data. Pengujian validasi tes lebih
dititik beratkan pada uji kesejajaran skor antar item dengan skor total dari item,
dimana dalam penyusunannya tolak ukur yang digunakan berasal dari indikator-indikator
yang ada. Perhitungan koefisien validasi dilakukan dengan menggunakan
rumus koefisien korelasi product moment, yaitu:
Dengan            : :validasi tes
n : jumlah responden
ΣX : skor setiap item
ΣY : skor total responden
Sedangkan untuk uji reliabilitas menggunakan rumus α:
Dimana:           = reliabilitas instrument
 k = banyaknya butir soal
= jumlah varians butir soal
                          = varians total
Klasifikasi besarnya koefisisen reliabilitas berdasarkan patokan menurut J.P Guilford
sebagaimana yang dikutip sulistyowati (2009:70) adalah sebagai berikut:
Koefisien Korelasi ( r )
Interprestasi
0,80 < r ≤ 1,00
Sangat Tinggi
0,60 < r ≤ 0,80
Tinggi
0,40 < r ≤ 0,60
Cukup
0,20 < r ≤ 0,40
Rendah
r ≤ 0,20
Sangat Rendah

Penelitian ini akan menggambarkan jenis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal
Matriks, maka data yang akan dikumpulkan akan
dianalisis sebagai berikut:

1. Data display (penyajian data)
Dalam penyajian ini, maka dapat yang ditampilkan dalam bentuk uraian singkat,
bagan, hubungan antar kategori, bagan alur ataupun sejenisnya.
2. Conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan/ verifikasi)
Langkah terakhir adalah melakukan penarikan kesimpulan dari berbagai data
yang telah diperoleh. Kesimpulan akan menjadi kredibel apabila didukung
dengan temuan-temuan di lapangan.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Dalam penelitian ini, peneliti menyusun insturumen penelitian dalam bentuk tes
uraian yang berjumlah empat butir soal yang dilengkapi dengan rubrik penilaian.
Dengan skor yang tertinggi yang di capai siswa adalah 34. Sebelum tes tersebut
digunakan terlebih dahulu dilakukan validasi konstruksi dan validasi isi, untuk
memperoleh tes yang valid.Dalam penelitian ini, pengujian validasi tes dilakukan dalam bentuk validasi isi.
Interpretasi besarnya koefisien korelasi dilakukan berdasarkan patokan sebagai
berikut :
Koefisien Korelasi ( r )
Interprestasi
0,80 < r ≤ 1,00
Sangat Tinggi
0,60 < r ≤ 0,80
Tinggi
0,40 < r ≤ 0,60
Cukup
0,20 < r ≤ 0,40
Rendah
r ≤ 0,20
Sangat Rendah

dengan melihat harga dan membandingkannya dengan masingmasing
item soal dan semua soal valid dan cukup baik untuk digunakan sebagai alat
pengumpul data. Koefisien dan status validasi tersebut dapat di lihat pada table
berikut ini.
Tabel koefisien dan status validasi:
Nomor Soal
Koefisien Validasi
Status Valid
1.a
0,37147
Valid
1.b
0,14877
Valid
2
0,69318
Valid
3
0,26049
Valid
4
0,65838
Valid

1. Uji Reliabilitas Tes

Adapun dalam menentukan varians setiap item soal

Dengan kriteria:
0,80< r 11  1,00 : korelasi sangat tinggi
0,60< r 11 ≤ 0,80 : korelasi tinggi
0,40< r 11 ≤ 0,60 : korelasi cukup
0,20< r 11 ≤ 0,40 : korelasi rendah
0,00< r 11 ≤ 0,20 : korelasi sangat rendah
Hasil perhitungan varians setiap soal adalah sebagai berikut:
Nomor Soal
Varians
1.a
0,0278
1.b
8,1802
2
6,65
3
1,6254
4
13,5016


2. Menghitung varians total dan reliabilitas tes
Dari hasil perhitungan di peroleh varians total 29,985 dan reliabilitas tes r11 = 0,0133
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tes reliabilitas yang berarti
dapat di gunakan sebagai alat pengumpul data pada penelitian ini.
Pembahasan
Data dalam penelitian ini adalah penyelesaian soal-soal yang mencakup pokok
bahasan Matriks. Persentase siswa yang dapat menyelesaikan soal nomor 1a,1b,4 lebih
tinggi yakni sebesar 54,5 %. Sedangkan untuk persentase yang rendah terdapat pada
soal nomor 2,3 yaitu sebesar 9,09 %. Dari hasil tes yang diberikan nampak bahwa
penguasaan matematika siswa pada materi Matriks masih banyak yang rendah. Hal ini terbukti dari hasil tes siswa yang terkumpul, dimana siswa banyak mengalami kesulitan pada hasil tes yang diberikan ditinjau dari berpikir kreatif.
Dengan demikian dapat diketahui secara jelas bahwa sebagian siswa belum mempunyai kemampuan berpikir kreatif matematika dengan baik dan benar. Hal ini menunjukkan dengan ketidakmampuan untuk menguraikan atau menyelesaikan tes yang diberikan khususnya pada materi Matriks.
Berpikir kreatif matematika sangatlah penting bagi siswa, karena dengan berpikir kreatif matematika akan memudahkan siswa ketika dihadapkan dalam berbagai masalah. Untuk melihat berpikir kreatif matematika siswa maka digunakan tes sebagai teknik utama dalam pengumpulan data.kepada siswa dengan tujuan untuk memperoleh gambaran berpikir kreatif matematika siswa khususnya pada materi Matriks di kelas XII IPA SMA BINA JAYA PALEMBANG.
Dari data hasil penelitian diperoleh capaian penguasaan matematika siswa. Jika ditinjau dari setiap indikator maka diperoleh bahwa untuk kemampuan berpikir lancar siswa sebesar 9,09 %, untuk kemampuan berpikir luwes siswa sebesar 27,27 %, untuk kemampuan berpikir kebaruan siswa sebasar 54,54 %, sedangkan untuk kemampuan memperinci siswa sebesar 54,54 %.
Berdasarkan persentase diatas bahwa siswa yang mampu berpikir kreatif matematika belum sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes
siswa bahwa belum sepenuhnya siswa menguasai kemampuan berpikir lancar, kemapuan berpikir luwes, kemampuan berpikir kebaruan (orisinil) dan kemampuan memperinci. Sehingga siswa mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada soal tersebut.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Secara umum tingkat kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas XII SMA BINA JAYA PALEMBANG masih sedang. Hal ini didasarkan pada temuan-temuan peneliti dalam masing-masing indikator sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir lancar
Kemampuan mereka dalam memecahkan soal dengan berpikir lancar masih sangat lemah. Berdasarkan jawaban yang diberikan siswa, siswa banyak menjawab soal hanya satu jawaban saja sedangkan yang ditutut dalam berpikir lancar adalah lebih dari satu jawaban.
2. Kemampuan berpikir luwes
Pada kemampuan berpikir luwes, berdasarkan hasil yang di diberikan oleh siswa, peneliti menemukan bahwa banyaknya siswa yang mampu menjawab soal berpikir luwes yaitu 18 siswa. Hal tersebut menunjukan bahwa kemampuan berpikir luwes siswa kelas XII SMA BINA JAYA PALEMBANG sudah cukup baik.
3. Kemampuan berpikir Kebaruan (Orisinil)
Pada kemampuan berpikir orisinil, berdasarkan hasil yang di diberikan oleh siswa, peneliti menemukan bahwa banyaknya siswa yang mampu menjawab soal berpikir orisinil yaitu 10 siswa. Hal tersebut menunjukan bahwa kemampuan berpikir orisinil siswa kelas XII SMA BINA JAYA PALEMBANG sudah cukup baik.
4. Kemampuan memperinci
Pada kemampuan memperinci, berdasarkan hasil yang di diberikan oleh siswa, peneliti menemukan bahwa banyaknya siswa yang mampu menjawab soal memperinci yaitu 10 siswa. Hal tersebut menunjukan bahwa kemampuan berpikir orisinil siswa kelas XII SMA BINA JAYA PALEMBANG sudah cukup baik.
Sedangakan yang lainya menjawab soal tanpa disertai kesimpulan yang jelas dari jawaban yang mereka kerjakan.




Saran
Diharapkan kepada guru-guru matematika, dalam hal pembelajaran saatnya menggunakan paradigm pengoptimalan potensi siswa, baik potensi intelektual maupun fisik, mereka harus menjadi pelajar yang aktif, berani ditantang untuk menerapkan pengetahuan umum dan pengalaman baru mereka, dalam kondisi yang sulit sekalipun. Berbagai pendekatan pembelajaran harus mendorong siswa dalam roses pembelajaran, bukan hanya sekedar mentransfer informasi kepada siswa.
Bagi peneliti selanjutnya dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai acuan dalam meneliti kemampuan berpikir kreatif matematis siswa di tinjau dari tingkat kemampuan berpikir kreatif matematis.































DAFTAR PUSTAKA
Sugiyono. 2012. Metode penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Walgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset
Ambarjaya, Beni. 2012. Psikologi Pendidikan & Pengajaran (Teori & Praktik). Jakarta: P.T                     Buku
Arikunto, Suharsimi. 2009. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Umar, Masri. Aspek Kreatif dalam Proses Kognitif (hakikat, Kawasan, Dan Pemgukuran).
Roestiya, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta Rineka Cipta.
Mutniaty, Endyah. 2012. Pendidikan dan Bimbingan Anak Kreatif. Yogyakarta: Pedagogia
Dimyati, 2006, Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Tatag. Desain Tugas untuk Mengidentifikasi Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Matematika. Skripsi Universitas Negeri Surabaya.
Munandar , Utami.2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta
Ari Y, Rosihan dan Indriyastuti.2006.Model Buku Pelajaran Matematika Sekolah Menengah                                                       Atas.Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar