MAKALAH
EVALUASI TENTANG KEMAMPUAN
BERPIKIR KREATIF MATEMATIKA SISWA KELAS XII PADA MATERI MATRIKS DI SMA BINA
JAYA PALEMBANG
Nama : Mawarni Agustini (2012
121 053)
Kelas
: 5.B
ABSTRAK
Kemampuan Berpikir Kreatif
Matematika Siswa Kelas XII SMA BINA JAYA
PALEMBANG, pada Materi Matriks. Adapun
tujuan dalam penelitian ini, untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa
kelas XII SMA BINA JAYA pada Materi
Matriks
Untuk mengukur kemampuan berpikir
kreatif, ada empat indikator yaitu: (a) kemampuan berpikir lancar,(b)kemampuan
berpikir luwes, (c) kemampuan berpikir kebaruan, dan (d) kemampuan menarik
kesimpulan (elaborasi), yang mana disini menggunakan dua instrumen penelitian
yatu: (a) tes yang disusun oleh peneliti sendiri, yang sudah divalidasi isi
(diuji cobakan) dan sudah divalidasi konstruksi melalui dosen ahli dan (b)
melihat kemampuan siswa dengan tingkat kemampuan berpikir kreatif yang tinggi,
sedang, dan rendah dilihat dari jawaban mereka melalui tes yang diberikan.Dari
hasil penelitian ini, menyimpulkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa kelas
XII.IPA masih rendah.
BAB
I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kreatifitas
dapat dipandang sebagai produk dari berpikir kreatif, sedangkan aktivitas
kreatif merupakan kegiatan dalam pembelajaran yang diarahkan untuk mendorong
atau memunculkan kreativitas siswa. Aktivitas kreatif adalah suatu kegiatan
yang diarahkan untuk mendorong atau memunculkan kretivitas siswa. Melalui
belajar matematika, siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan
berfikir logis, kritis, analitis, kreatif, dan produktif. Akan tetapi, berbagai
fakta yang ditemukan dalam pembelajaran matematika, yang menjadikan siswa
tersebut kurang berpikir kreatif. Pertama perasaan takut gagal, karena biasanya
siswa yang mengalami kegagalan dalam menyelesaikan soal matematika yang
diberikan oleh guru hukumannya lebih berat dibandingkan dengan hadiah untuk
keberhasilannya dalam menyelesaikan soal tersebut.
Rumusan masalah
Berdasarkan
uraian pada latar belakang di atas, masalah yang teridentifikasi adalah:
1. Siswa belum terbiasa dalam memecahkan soal matematika yang bersifat
terbuka.
2. Guru cenderung prosedural dan lebih menekankan pada hasil belajar.
3. Siswa belajar sesuai dengan contoh yang diberikan oleh guru.
4. Soal yang
diberiakan kepada siswa hanya soal-soal langsung pada pemakain rumus yang sudah
ada.
Berdasarkan
masalah dan identifikasi masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah : “Bagaimana Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa Kelas
XII pada Materi Matriks di SMA Bina Jaya
Palembang”.
Tujuan
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa.
Adapun tujuan yang
diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Guru
hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terhadap guru mata pelajaran
untuk dapat mengetahui tingkat kreatifitas siswa, khususnya pada pelajaran
matematika.
2. Bagi Siswa
hasil
penelitian ini diharapkan dapat memotivasi siswa untuk belajar dan lebih
proaktif dalam proses pembelajaran sehingga mampu mengatur waktu belajar dengan
baik.
3. Bagi Peneliti
Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat
menambah wawasan pengetahuan tentang berpikir kreatif matematika siswa.
Kreatifitas adalah potensi alamiah dalam diri anak
yang harus dikembangkan secara optimal. Kreativitas itu sendiri ditumbuhkan
oleh otak kanan, yaitu bagian otak yang memiliki spesifikasi berfikir, mengolah
data seputar perasaan, emosi, seni dan musik. Semua anak yang lahir di dunia
ini mempunyai sisi kreativitas, tapi dalam kadar yang berbeda. Tinggi rendahnya
kreativitas anak dipengaruhi oleh dua hal, yaitu faktor genetika bawaan dan faktor
lingkungan.
BAB II
PEMBAHASAN
Bagi
peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan
tentang berpikir kreatif matematika siswa.
Kreatifitas
adalah potensi alamiah dalam diri anak yang harus dikembangkan secara optimal.
Kreativitas itu sendiri ditumbuhkan oleh otak kanan, yaitu bagian otak yang
memiliki spesifikasi berfikir, mengolah data seputar perasaan, emosi, seni dan
musik. Semua anak yang lahir di dunia ini mempunyai sisi kreativitas, tapi
dalam kadar yang berbeda. Tinggi rendahnya kreativitas anak dipengaruhi oleh
dua hal, yaitu faktor genetika bawaan dan faktor lingkungan.
1. Pengertian Kreativitas
Menurut
pandangan Campbell (dalam Ambarjaya: 35) kreativitas adalah suatu ide atau
pemikiran manusia yang bersifat inovatif, berdaya guna, dan dapat dimengerti.
Definisi senada juga dikemukakan oleh Drevdahll (dalam Ambarjaya: 35)
kreativitas adalah kemampuan seseorang menghasilkan gagasan baru berupa
kegiatan atau sintesis pemikiran yang mempunyai maksud dan tujuan yang
ditentukan, bukan fantasi semata.
2. Kreativitas pada Anak
Ada
tiga ciri dominan pada anak yang kreatif; (1) spontan, (2) rasa ingin tahu, dan
(3) tertarik pada hal-hal baru. Ternyata ketiga ciri tersebut terdapat pada
diri anak. Berarti semua anak pada dasarnya adalah kreatif, faktor
lingkunganlah yang menjadikan anak tidak kreatif. Usia dini atau disebut juga
usia prasekolah merupakan suatu masa ketika anak-anak belum memasuki pendidikan
formal. Oleh karena itu pada rentang usia dini adalah saat yang tepat untuk
mengembangkan kreativitas anak.
Ada
beberapa faktor yang menghambat perkembangan kreativitas anak, antara lain:
1. Perasaan takut gagal,
2. Terlalu terpaku pada tata tertib dan tradisi,
3. Enggan bermain dan terlalu mengharapkan hadiah jika dihadapkan pada
tugas tertentu,
4. Orang tua yang
terlalu melindungi anak dan ini biasanya banyak terjadi pada anak pertama
sehingga kesempatan bagi dirinya untuk belajar justru berkurang.
Orang tua tanpa sadar, sering memaksakan anak menyesuaikan diri dengan
imajinasi dan fantasi sebagai orang tua.
3. Berpikir
Kreatif
Berpikir kreatif merupakan kegiatan mental yang
dialami sesorang bila mereka dihadapkan pada suatu masalah atau situasi yang
dipecahkan. Berpikir merupakan proses dinamis yang dpat di lukiskan menurut
proses atau jalannya. Proses berpikir pada pokoknya terdiri atas 3 langkah,
yaitu pembentukan pengertian, pembentukan pendapat, dan penarikan kesimpulan.
Evens (dalam Tatag 2010 : 29) menjelaskan bahwa
berpikir kreatif adalah suatu aktivitas mental untuk membuat hubungan-hubungan
(conections) yang terus menerus (kontinu), sehingga ditemukan kondisi yang
“benar” atau sampai seseorang itu menyerah. Berpikir kreatif mengabaikan
hubungan-hubungan yang sudah mapan, dan menciptakan hubungan-hubungan
tersendiri. Dari pengertian ini menunjukan bahwa berpikir kreatif merupakan
kegiatan mental untuk menemukan suatu kombinasi yang belum dikenal sebelumnya.
4. Tingkat
Kemampuan Berpikir Kreatif (TKBK)
Tingkat 1 merupakan tingkat berpikir kreatif rendah,
karena hanya mengekspresikan terutama kesadaran siswa terhadap keperluan
menyelesaikan tugasnya saja. Tingkat 2 menunjukan berpikir kreatif yang lebih
tinggi karena siswa harus menunjukan bagaimana mereka mengamati sebuah
implikasi pilihannya, seperti penggunaan matriks. Tingkat 3 merupakan tingkat
yang lebih tinggi berikutnya karena siswa harus memilih suatu strategi dan
mengkoordinasikan antara bermacam-macam penjelasan dalam tugasnya. Mereka harus
memutuskan bagaimana tingkat detil yang diinginkan dan bagaimana menyajikan
urutan tindakan atau kondisi-kondisi logis dari sistem tindakan. Tingkat 4
merupakan tingkat berfikir sedang karena siswa harus membandingkan dengan
sekumpulan tujuan.
5. Berpikir
Kreatif dalam Matematika
Haylock (dalam Tatag, 2010 :42) mengatakan bahwa dalam
konteks matematika, kriteria kelancaran tampak kurang berguna disbanding dengan
keluwesan. Dalam menilai kemampuan berpikir kreatif anak-anak dan orang dewasa
sering digunakan “The Torrance Test of Creative Thingking (TTCT)” yang
disusun oleh Paul Torrence. Tiga komponen kunci yang di nilai dalam kreativitas
menggunakan TTCT adalah kelancaran, keluwesan, dan kebaruan. Kelancaran mengacu
pada banyaknya ide-ide yang dibuat dalam merespons sebuah perintah. Keluwesan
terlihat pada perubahan-perubahan pendekatan ketika merespons perintah.
Kebaruan merupakan keaslian ide yang dibuat dalam meresepon perintah (Murniati,
2012: 58). Untuk lebih jelasnya ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif matematis
sebagaimana di ungkapkan oleh Munandar (dalam Tatag, 2010:36) yaitu:
1. Keterampilan Berpikir Lancar (Fluency)
Ciri-ciri keterampilan berpikir lancar adalah
mencetuskan banyak ide, jawaban, penyelesaian masalah, atau pertanyaan,
memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal , selalu
memikirkan lebih dari satu jawaban.
2. Keterampilan Berpikir Luwes (Flexibility)
Ciri berpikir luwes adalah menghasilkan gagasan,
jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari
sudut pandang yang berbeda-beda, mencari banyak alternative atau arah yang
berbeda-beda, mampu mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran.
3. Keterampilan Berpikir Orisinil
Kebaruan (Originality)
Ciri-ciri berpikir orisinil adalah mampu melahirkan
ungkapan yang berbeda dan unik, memikirkan cara yang tidak lazim untuk
mengungkapkan diri, mampu membuat kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian
atau unsur-unsur.
4. Keterampilan Memperinci (Elaboration)
Ciri-ciri keterampilan memperinci adalah mmpu
memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk, menambahkan atau
memperinci secara detil subjek, gagasan atau situasisehingga menjadi lebih
menarik.
Mengacu
pada pengertian berpikir kreatif secara umum dan indikator kemampuan berpikir
kreatif matematika di atas, maka berpikir kreatif diartikan sebagai suatu
kegiatan mental yang digunakan seseorang untuk membangun ide atau gagasan yang
baru secara lancar dan luwes. Ide dalam pengertian disini adalah ide dalam
memecahkan masalah matematika dengan tepat.
METODOLOGI
PENELITIAN
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA BINA JAYA
PALEMBANG kelas XII.IPA.1, jln Ki. Merogan lorong Ngabehi kecamatan kertapati
Palembang. Waktu penelitian ini dilaksanakan
pada semester ganjil, tahun pelajaran 2013/2014 selama ± 1 hari yang bertepatan
pada hari Sabtu tanggal 8 November 2014.
Metode
Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode deskriptif. Karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tentang
kemampuan berpikir kreatif matematika siswa terhadap pembelajaran matematika.
Penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk
menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah
ataupun rekayasa manusia (Sukmadinata, 2009: 72).
Data dalam penelitian berupa data primer tentang
kemampuan berpikir kreatif matematika siswa terhadap pembelajaran matematika.
Adapun yang menjadi sumber data pada penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA
BINA JAYA PALEMBANG Tahun Pelajaran 2013/2014.
Variabel dalam penelitian ini hanya satu yaitu
kemampuan berpikir kreatif siswa terhadap pembelajaran matematika.
Pengumpulan
data akan dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Pemberian Tes
Tes yang akan diberikan untuk menjaring informasi
yang berkaitan dengan berpikir kreatif matematika siswa. Pemberian tes sebagai
alat bantu untuk mengumpulkan data dengan memberikan sejumlah pertanyaan-pertanyaan
yang sudah memenuhi syarat-syarat sebagai alat ukur yang baik, yaitu validasi
dan reliabilitas. Pertanyaan-pertanyaan yang termuat dalam satu tes uraian yang
memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan, bentuk tes uraian ini menuntut kemampuan
siswa berpikir secara kreatif. Sebelum tes diedarkan pada anggota
sampel,
terlebih dahulu dilakukan verifikasi terhadap tes tersebut yaitu terdiri dari
validasi
dan reliabitas. Validasi adalah keadaan yang menggambarkan bahwa
tingak
instrument yang bersangkutan mampu mengukur apa yang akan diukur.
Reliabilitas adalah pengujian yang dilakukan untuk
mendeteksi apakah instrumen
yang
digunakan apakah instrument yang digunakan untuk menjaring data benar-benar
meyakinkan
sebagai instrument pengumpul data. Pengujian validasi tes lebih
dititik
beratkan pada uji kesejajaran skor antar item dengan skor total dari item,
dimana
dalam penyusunannya tolak ukur yang digunakan berasal dari indikator-indikator
yang
ada. Perhitungan koefisien validasi dilakukan dengan menggunakan
rumus
koefisien korelasi product moment, yaitu:

Dengan
:
:validasi tes
n : jumlah responden
ΣX : skor setiap item
ΣY : skor total responden
Sedangkan
untuk uji reliabilitas menggunakan rumus α:

Dimana:
= reliabilitas
instrument
k
= banyaknya butir soal
Klasifikasi besarnya koefisisen reliabilitas
berdasarkan patokan menurut J.P Guilford
sebagaimana
yang dikutip sulistyowati (2009:70) adalah sebagai berikut:
|
Koefisien
Korelasi ( r )
|
Interprestasi
|
|
0,80
< r ≤ 1,00
|
Sangat
Tinggi
|
|
0,60
< r ≤ 0,80
|
Tinggi
|
|
0,40
< r ≤ 0,60
|
Cukup
|
|
0,20
< r ≤ 0,40
|
Rendah
|
|
r
≤ 0,20
|
Sangat
Rendah
|
Penelitian ini akan menggambarkan jenis kesalahan
siswa dalam menyelesaikan soal-soal
Matriks,
maka data yang akan dikumpulkan akan
dianalisis
sebagai berikut:
1. Data display (penyajian
data)
Dalam penyajian ini, maka dapat yang ditampilkan
dalam bentuk uraian singkat,
bagan,
hubungan antar kategori, bagan alur ataupun sejenisnya.
2. Conclusion
drawing/verification (penarikan kesimpulan/ verifikasi)
Langkah terakhir adalah melakukan penarikan kesimpulan
dari berbagai data
yang
telah diperoleh. Kesimpulan akan menjadi kredibel apabila didukung
dengan
temuan-temuan di lapangan.
ANALISIS
DAN PEMBAHASAN
Dalam
penelitian ini, peneliti menyusun insturumen penelitian dalam bentuk tes
uraian
yang berjumlah empat butir soal yang dilengkapi dengan rubrik penilaian.
Dengan skor yang tertinggi yang di capai siswa
adalah 34. Sebelum tes tersebut
digunakan
terlebih dahulu dilakukan validasi konstruksi dan validasi isi, untuk
memperoleh
tes yang valid.Dalam penelitian ini, pengujian validasi tes dilakukan dalam
bentuk validasi isi.
Interpretasi
besarnya koefisien korelasi dilakukan berdasarkan patokan sebagai
berikut
:
|
Koefisien
Korelasi ( r )
|
Interprestasi
|
|
0,80
< r ≤ 1,00
|
Sangat
Tinggi
|
|
0,60
< r ≤ 0,80
|
Tinggi
|
|
0,40
< r ≤ 0,60
|
Cukup
|
|
0,20
< r ≤ 0,40
|
Rendah
|
|
r
≤ 0,20
|
Sangat
Rendah
|
dengan
melihat harga dan membandingkannya dengan masingmasing
item
soal dan semua soal valid dan cukup baik untuk digunakan sebagai alat
pengumpul
data. Koefisien dan status validasi tersebut dapat di lihat pada table
berikut
ini.
Tabel
koefisien dan status validasi:
|
Nomor
Soal
|
Koefisien
Validasi
|
Status
Valid
|
|
1.a
|
0,37147
|
Valid
|
|
1.b
|
0,14877
|
Valid
|
|
2
|
0,69318
|
Valid
|
|
3
|
0,26049
|
Valid
|
|
4
|
0,65838
|
Valid
|
1. Uji Reliabilitas Tes
Adapun
dalam menentukan varians setiap item soal
Dengan
kriteria:
0,80<
r 11
1,00 : korelasi sangat tinggi
0,60<
r 11 ≤ 0,80 : korelasi tinggi
0,40<
r 11 ≤ 0,60 : korelasi cukup
0,20<
r 11 ≤ 0,40 : korelasi rendah
0,00<
r 11 ≤ 0,20 : korelasi sangat rendah
Hasil
perhitungan varians setiap soal adalah sebagai berikut:
|
Nomor
Soal
|
|
Varians
|
|
1.a
|
|
0,0278
|
|
1.b
|
|
8,1802
|
|
2
|
|
6,65
|
|
3
|
|
1,6254
|
|
4
|
|
13,5016
|
2. Menghitung varians total dan reliabilitas
tes
Dari hasil perhitungan di peroleh varians total
29,985 dan reliabilitas tes r11 = 0,0133
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa tes reliabilitas yang berarti
dapat
di gunakan sebagai alat pengumpul data pada penelitian ini.
Pembahasan
Data dalam penelitian ini adalah penyelesaian
soal-soal yang mencakup pokok
bahasan
Matriks. Persentase siswa yang dapat menyelesaikan soal nomor 1a,1b,4 lebih
tinggi
yakni sebesar 54,5 %. Sedangkan untuk persentase yang rendah terdapat pada
soal
nomor 2,3 yaitu sebesar 9,09 %. Dari hasil tes yang diberikan nampak bahwa
penguasaan
matematika siswa pada materi Matriks masih banyak yang rendah. Hal ini terbukti
dari hasil tes siswa yang terkumpul, dimana siswa banyak mengalami kesulitan
pada hasil tes yang diberikan ditinjau dari berpikir kreatif.
Dengan demikian dapat diketahui secara jelas bahwa
sebagian siswa belum mempunyai kemampuan berpikir kreatif matematika dengan
baik dan benar. Hal ini menunjukkan dengan ketidakmampuan untuk menguraikan
atau menyelesaikan tes yang diberikan khususnya pada materi Matriks.
Berpikir kreatif matematika sangatlah penting bagi
siswa, karena dengan berpikir kreatif matematika akan memudahkan siswa ketika
dihadapkan dalam berbagai masalah. Untuk melihat berpikir kreatif matematika
siswa maka digunakan tes sebagai teknik utama dalam pengumpulan data.kepada
siswa dengan tujuan untuk memperoleh gambaran berpikir kreatif matematika siswa
khususnya pada materi Matriks di kelas XII IPA SMA BINA JAYA PALEMBANG.
Dari data hasil penelitian diperoleh capaian
penguasaan matematika siswa. Jika ditinjau dari setiap indikator maka diperoleh
bahwa untuk kemampuan berpikir lancar siswa sebesar 9,09 %, untuk kemampuan
berpikir luwes siswa sebesar 27,27 %, untuk kemampuan berpikir kebaruan siswa
sebasar 54,54 %, sedangkan untuk kemampuan memperinci siswa sebesar 54,54 %.
Berdasarkan persentase diatas bahwa siswa yang mampu
berpikir kreatif matematika belum sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini dapat
dilihat dari hasil tes
siswa
bahwa belum sepenuhnya siswa menguasai kemampuan berpikir lancar, kemapuan
berpikir luwes, kemampuan berpikir kebaruan (orisinil) dan kemampuan
memperinci. Sehingga siswa mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada soal
tersebut.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Secara umum tingkat kemampuan berpikir kreatif
matematis siswa kelas XII SMA BINA JAYA PALEMBANG masih sedang. Hal ini
didasarkan pada temuan-temuan peneliti dalam masing-masing indikator sebagai
berikut:
1. Kemampuan berpikir lancar
Kemampuan mereka dalam memecahkan soal dengan
berpikir lancar masih sangat lemah. Berdasarkan jawaban yang diberikan siswa,
siswa banyak menjawab soal hanya satu jawaban saja sedangkan yang ditutut dalam
berpikir lancar adalah lebih dari satu jawaban.
2. Kemampuan berpikir luwes
Pada kemampuan berpikir luwes, berdasarkan hasil
yang di diberikan oleh siswa, peneliti menemukan bahwa banyaknya siswa yang
mampu menjawab soal berpikir luwes yaitu 18 siswa. Hal tersebut menunjukan
bahwa kemampuan berpikir luwes siswa kelas XII SMA BINA JAYA PALEMBANG sudah
cukup baik.
3.
Kemampuan berpikir Kebaruan (Orisinil)
Pada kemampuan berpikir orisinil, berdasarkan hasil
yang di diberikan oleh siswa, peneliti menemukan bahwa banyaknya siswa yang
mampu menjawab soal berpikir orisinil yaitu 10 siswa. Hal tersebut menunjukan
bahwa kemampuan berpikir orisinil siswa kelas XII SMA BINA JAYA PALEMBANG sudah
cukup baik.
4. Kemampuan memperinci
Pada kemampuan memperinci, berdasarkan hasil yang di
diberikan oleh siswa, peneliti menemukan bahwa banyaknya siswa yang mampu menjawab
soal memperinci yaitu 10 siswa. Hal tersebut menunjukan bahwa kemampuan
berpikir orisinil siswa kelas XII SMA BINA JAYA PALEMBANG sudah cukup baik.
Sedangakan
yang lainya menjawab soal tanpa disertai kesimpulan yang jelas dari jawaban
yang mereka kerjakan.
Saran
Diharapkan kepada guru-guru matematika, dalam hal
pembelajaran saatnya menggunakan paradigm pengoptimalan potensi siswa, baik
potensi intelektual maupun fisik, mereka harus menjadi pelajar yang aktif,
berani ditantang untuk menerapkan pengetahuan umum dan pengalaman baru mereka,
dalam kondisi yang sulit sekalipun. Berbagai pendekatan pembelajaran harus
mendorong siswa dalam roses pembelajaran, bukan hanya sekedar mentransfer
informasi kepada siswa.
Bagi peneliti selanjutnya dapat menjadikan hasil
penelitian ini sebagai acuan dalam meneliti kemampuan berpikir kreatif
matematis siswa di tinjau dari tingkat kemampuan berpikir kreatif matematis.
DAFTAR PUSTAKA
Sugiyono. 2012. Metode
penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Walgito, Bimo.
2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset
Ambarjaya, Beni.
2012. Psikologi Pendidikan & Pengajaran (Teori & Praktik). Jakarta:
P.T Buku
Arikunto,
Suharsimi. 2009. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Umar, Masri. Aspek
Kreatif dalam Proses Kognitif (hakikat, Kawasan, Dan Pemgukuran).
Roestiya, 2001.
Strategi Belajar Mengajar. Jakarta Rineka Cipta.
Mutniaty, Endyah.
2012. Pendidikan dan Bimbingan Anak Kreatif. Yogyakarta: Pedagogia
Dimyati, 2006, Belajar
Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Tatag. Desain
Tugas untuk Mengidentifikasi Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Matematika.
Skripsi Universitas Negeri Surabaya.
Munandar , Utami.2009.
Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta
Ari Y, Rosihan dan Indriyastuti.2006.Model Buku Pelajaran Matematika Sekolah
Menengah Atas.Jakarta:
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar