BAB
I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Pendidikan merupakan
suatu proses generasi muda untuk dapat menjalankan kehidupan dan memenuhi
tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien. Pendidikan lebih daripada
pengajaran, karena pengajaran sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, sedang
pendidikan merupakan transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan
segala aspek yang dicakupnya. Perbedaan pendidikan dan pengajaran terletak pada
penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik
di samping transfer ilmu dan keahlian.
Dalam pendidikan,
taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini,
tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan
psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori
dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah
laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku
dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat
yang lebih rendah. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom
dan kawan-kawan pada tahun 1956, sehingga sering pula disebut sebagai
"Taksonomi Bloom".
2. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami bahas dalam makalah ini adalah
:
1. Apa pengertian dari taksonomi?
2. Jelaskan
maksud dari taksonomi Bloom?
3. Jelaskan kategori jenis belajar menurut
Gagne?
3. Tujuan
Adapun tujuan makalah ini
agar para mahasiswa diharapkan dapat :
1. Mengetahui pengertian taksonomi.
2. Memahami taksonomi yang dikemukakan menurut
Bloom dan Gagne.
3. Menjelaskan kategori jenis belajar menurut
Gagne.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Taksonomi Bloom
Kata Taksonomi diambil dari bahasa
Yunani Tassein yang berarti untuk mengklasifikasidan nomos yang
berarti aturan. Taksonomi dapat diartikan sebagai klasifikasi
berhirarki dari sesuatu, atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Hampir semua
( benda bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian ) dapat diklasifikasikan
menurut beberapa skema taksonomi.
Dalam pendidikan,
taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini,
tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan
psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori
dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah
laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku
dalam setiap tingkat diasumsikan menyetarakan juga tingkah laku dari tingkat
yang lebih rendah. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom
dan kawan-kawan pada tahun 1956, sehingga sering pula
disebut sebagai "Taksonomi Bloom".
B. S. Bloom bersama
rekan-rekannya yang berpikir sehaluan, menjadi kelompok pelopor dalam
menyumbangkan suatu klasifikasi tujuan instruksional (educational objectives).
Pada tahun 1956, terbitlah karya “Taxonomy
of Educational Objectives”, Cognitive Domain”. Pada tahun 1964, terbitlah
karya “Taxonomy of Educational
Objectives, Affective Domain”. Kelompok pelopor ini tidak berhasil
menerbitkan suatu taksonomi yang menyangkut tujuan instruksional di bidang
psikomotorik (psychomotor domain).
Orang lainlah yang mengembangkan suatu klasifikasi di bidang ini, antara lain
E. Simpson pada tahun 1967 dan A. Harrow pada tahun 1972.
Adapun suatu taksonomi
adalah merupakan suatu tipe system klasifikasi yang khusus, yang berdasarkan
data penelitian ilmiah mengenai hal-hal yang digolong-golongkan dalam
sistematika itu. Misalnya klasifikasi atas genus dan species terhadap
tumbuh-tumbuhan dan binatang, sebagaimana dikembangkan dalam ruang lingkup
Biologi, sesuailah dengan apa yang diketahui tentang tumbuh-tumbuhan dan
binatang. Sistematika pembagian / penggolongan itu tidak berdasarkan suatu
sistematika yang ditentukan sendiri (yang bersifat arbitrer), sebagaimana
terjadi dalam kartotek perpustakaan, yang mengklasifikasikan buku-buku menurut
urutan abjad nama-nama pengarang, menurut urutan abjad judul-judul buku atau
menurut topik-topik yang dibahas dalam buku-buku itu. Taksonomi-taksonomi di
tiga rana kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang dikembangkan oleh kelompok
pelopor ini dan beberapa orang lain, memang disebut “taxonomy”, tetapi menurut
pendapat beberapa ahli psikologi belajar, mungkin tidak seluruhnya memenuhi
tuntutan suatu taksonomi sebagaimana dijelaskan diatas, khususnya dalam rana
kognitif. Meskipun demikian, nama taksonomi akan tetap dipertahankan di sini,
sesuai dengan sumber-sumber yang asli, kecuali untuk sistematika yang
dikembangkan oleh Simpson dalam rana psikomotorik yang menggunakan nama/judul
“klasifikasi” (classification).
2.1.1 Adapun taksonomi
atau klasifikasi adalah sebagai berikut:
Rana Kognitif :
· Pengetahuan (Knowledge)
· Pemahaman (Comprehension)
· Penerapan (Application)
· Analisa (Analysis)
· Sintesa (Syntesis)
· Evaluasi (Evaluation)
Rana Afektif :
· Penerimaan (Receiving)
· Partisipasi (Responding)
· Penilaian/Penentuan Sikap (Valuing)
· Organisasi (Organization)
· Pembentukan Pola Hidup (Characterization By A Value Or Value
Complex).
Rana Psikomotorik :
· Persepsi (Perception)
· Kesiapan (Set)
· Gerakan Terbimbing (Guided Response)
· Gerakan Yang Terbiasa (Mechanical Response)
· Gerakan Yang Kompleks (Complex Response)
· Penyesuaian Pola Gerakan (Adaptation)
· Kreativitas (Creativity)
Rana Kognitif
Kawasan kognitif yaitu
kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar terdiri dari
:
· Pengetahuan (Knowledge)
Mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan
disimpan dalam ingatan. Hal-hal itu dapat meliputi fakta, kaidah dan prinsip,
serta metode yang diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali
pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall) atau mengenal
kembali (recognition). Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai
berikut : “siswa akan mampu menyebutkan nama semua sekretaris jenderal PBB,
sejak saat PBB mulai berdiri”. Siswa akan mampu menulis semua nama propinsi di
Indonesia, pada peta perbatasan daerah-daerah propinsi”.
· Pemahaman (Comprehension)
Mencakup kemampuan untuk
menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan ini
dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan, mengubah data yang
disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain, seperti rumus matematika ke
dalam bentuk kata-kata, membuat perkiraan tentang kecenderungan yang nampak
dalam data tertentu, seperti dalam grafik.
· Penerapan (Application)
Mencakup kemampuan untuk
menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus/problem yang
kongkret dan baru. Adanya kemampuan dinyatakan dalam aplikasi suatu rumus pada
persoalan yang belum dihadapai atau aplikasi suatu metode kerja pada pemecahan
problem baru.
· Analisa (Analysis):
Mencakup kemampuan untuk
merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan
atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Adanya kemampuan ini dinyatakan
dalam penganalisaan bagian-bagian pokok atau komponen-komponen dasar, bersama
dengan hubungan/relasi antara bagian-bagian itu.
· Sintesa (Synthesis):
Mencakup kemampuan untuk
membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan satu sama
lain, sehingga terciptakan suatu bentuk baru.
· Evaluasi (Evaluation):
Mencakup kemampuan untuk
membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan
pertanggungjawaban pendapat itu, yang berdasarkan kriteria tertentu. Kemampuan
itu dinyatakan dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu, seperti penilaian
terhadap pengguguran kandungan berdasarkan norma moralitas, atau pernyataan
pendapat terhadap sesuatu, seperti dalam menilai tepat-tidaknya perumusan suatu
TIK, berdasarkan kriteria yang berlaku dalam perumusan TIK yang baik.
Rana Afektif
Pembagian domain ini
disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.Kawasan afektif yaitu
kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap,
kepatuhan terhadap moral dan sebagainya, terdiri dari :
· Penerimaan
(Receiving/Attending) :
Mencakup kepekaan akan
adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu, seperti
buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleh guru.
· Partisipasi
(Responding):
Mengadakan aksi terhadap
stimulus, yang meliputi proses sebagai berikut :
Ø Kesiapan menanggapi (acquiescene
of responding). Contoh : mengajukan pertanyaan, menempelkan gambar dari
tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan, atau mentaati
peraturan lalu lintas.
Ø Kemauan menanggapi
(willingness to respond), yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di
dalam bagian yang diperhatikan. Misalnya pada desain atau warna saja.
Ø Kepuasan menanggapi
(satisfaction in response), yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan
dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui. Contoh kegiatan yang tampak
dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya, membuat coretan atau gambar,
memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya, dan sebagainya.
· Penilaian/Penentuan
Sikap (Valuing)
Mencakup kemampuan untuk
memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian
itu. Mulai dibentuk suatu sikap : menerima, menolak atau mengabaikan, sikap itu
dinyatakan dalam tingkah laku yang sesuai dan konsisten dengan sikap batin.
· Organisasi
(Organization)
Mencakup kemampuan untuk
membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan.
Nilai-nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala nilai mana
yang pokok dan selalu harus diperjuangkan, mana yang tidak begitu penting.
Kemampuan itu dinyatakan dalam mengembangkan suatu perangkat nilai, seperti
menguraikan bentuk keseimbangan yang wajar antara kebebasan dan tanggung jawab
dalam suatu negara demokrasi atau menyusun rencana masa depan atas dasar
kemampuan belajar, minat dan cita-cita hidup.
· Pembentukan
Pola Hidup (Characterization By A Value Or Value Complex)
Mencakup kemampuan untuk
menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik
pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur
kehidupannya sendiri.
Rana Psikomotorik
Kawasan psikomotor yaitu
kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi
sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Kawasan ini
terdiri dari :
· Persepsi (Perception)
Mencakup kemampuan untuk
mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih,
berdasarkan pembedaan antara ciri-ciri fisik yang khas pada masing-masing
rangsangan. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam suatu reaksi yang menunjukkan
kesadaran akan hadirnya rangsangan (stimulasi) dan perbedan antara rangsangan-rangsangan
yang ada, seperti dalam menyisihkan benda yang berwarna merah dari yang
berwarna hijau.
· Kesiapan
(Set)
Mencakup kemampuan untuk
menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu gerakan atau rangkaian gerakan.
Kemampuan ini dinyatakan dalam bentuk kesiapan jasmani dan mental, seperti
dalam mempersiapkan diri untuk menggerakkan kendaraan yang ditumpangi, setelah
menunggu beberapa lama di depan lampu lalu lintas yang berwarna merah.
· Gerakan
Terbimbing (Guided Response)
Mencakup kemampuan untuk
melakukan suatu rangkaian gerak-gerik, sesuai dengan contoh yang diberikan
(imitasi). Kemampuan ini dinyatakan dalam mengerakkan anggota tubuh, menurut
contoh yang diperlihatkan atau diperdengarkan, seperti dalam meniru
gerakan-gerakan tarian atau dalam meniru bunyi suara.
· Gerakan Yang
Terbiasa (Mechanism Response)
Mencakup kemampuan untuk
melakukan suatu rangkaian gerak-gerik dengan lancar, karena sudah dilatih
secukupnya, tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan. Kemapuan ini
dinyatakan dalam menggerakkan anggota-anggota tubuh, sesuai dengan prosedur
yang tepat, seperti dalam menggerakkan kaki, lengan dan tangan secara
terkoordinir.
· Gerakan
Kompleks (Complex Response)
Mencakup kemampuan untuk
melaksanakan suatu ketrampilan yang terdiri atas beberapa komponen, dengan
lancar, tepat dan efisien. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam suatu
rangkaian perbuatan yang berurutan dan menggabungkan beberapa subketrampilan
menjadi suatu keseluruhan gerak-gerik yang teratur, seperti dalam membongkar
mesin mobil dalam bagian-bagiannya dan memasangnya kembali.
· Penyesuaian
Pola Gerakan (Adaptation)
Mencakup kemampuan untuk
mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak-gerik dengan kondisi setempat atau
dengan persyaratan khusus yang berlaku. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam
menunjukkan suatu taraf ketrampilan yang telah mencapai kemahiran, misalnya
seorang pemain tenis yang menyesuaikan pola permainannya
dengan gaya bermain dari lawannya atau dengan kondisi lapangan.
· Kreativitas
(Creativity)
Mencakup kemampuan untuk
melahirkan pola-pola gerak-gerik yang baru, seluruhnya atas dasar prakarsa dan
inisiatif sendiri. Hanya orang-orang yang berketrampilan tinggi dan berani
berpikir kreatif, akan mempu mencapai tingkat kesempurnaan ini, seperti
kadang-kadang dapat disaksikan dalam pertunjukan tarian di lapisan es dengan
diiringi musik instrumental.
2.2 TEORI BELAJAR GAGNE
Robert M. Gagne adalah
seorang ahli psikologi pendidikan yang mengembangkan pendekatan perilaku yang
eklektik. Teori belajar yang dikembangkannya dapat dikelompokkan menjadi tiga
macam konsep belajar yaitu:
2.2.1 Hasil-hasil Belajar Gagne.
Dalam mengajar kita harus
merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran itulah yang akan kita
jadikan sebagai tolak ukur dari hasil belajar siswa. Gagne memaparkan lima
tujuan belajar yang bersifat kognitif, psikomotor, dan afektif.
Hasil belajar ini
berwujud penampilan-penampilan yang disebut kemampuan-kemampuan (capabilities).
Di antaranya bersifat kognitif, yaitu:
1. Keterampilan Intelektual
Termasuk dalam
keterampilan intelektual adalah :
· Diskriminasi-diskriminasi,
merupakan suatu konsep kemampuan untuk mengadakan respons-respons yang berbeda
terhadap stimulus-stimulus yang berbeda dalam satu atau lebih dimensi fisik.
· Konsep-konsep
konkret, menunjukkan suatu sifat objek atau atribut objek. Dalam hal ini
diyakini bahwa penampilan manusia merupakan sebuah konsep yang konkret. Belajar
konkret merupakan prasyarat dari belajar abstrak.
· Konsep
terdefinisi, mensyaratkan kemampuan mendemonstrasikan arti dari kelas tertentu
tentang objek-objek, kejadian-kejadian, atau hubungan-hubungan.
· Aturan-aturan,
menunjukkan bagaimana penampilan mempunyai keteratuan dalam berbagai situasi
khusus. Dalam hal ini konsep terdefinisi merupakan merupakan suatu bentuk
khusus dari aturan yang bertujuan untuk mengelompokkan objek-objek, dan
kejadian-kejadian. Dapat pula dikatakan bahwa konsep terdefinisi merupakan
suatu aturan pengklasifikasian.
· Aturan-aturan
tingkat tinggi, merupakan gabungan dari berbagai aturan-aturan sederhana yang
dipergunakan untuk memecahkan masalah. Aturan-aturan yang kompleks atau
aturan-aturan tingkat tinggi ditemukan untuk memecahkan suatu masalah praktis
atau sekelompok masalah.
2. Strategi-strategi Kognitif
Stategi-strategi kognitif merupakan suatu proses kontrol, yaitu
proses internal yang digunakan siswa (orang yang belajar) untuk memilih dan
mengubah cara-cara memberikan perhatian, belajar mengingat, dan berpikir.
· Strategi-strategi
menghafal, yaitu siswa melakukan latihan tentang materi yang dipelajari dalam
bentuk pengulangan terus-menerus.
· Strategi-strategi
elaborasi, yaitu siswa mengasosiasikan hal - hal yang akan dipelajari dengan
bahan-bahan lain yang tersedia. Misalnya
pembuatan
catatan secara matriks, penggunaan analogi, menyeleksi ide utama dari buku
teks, dan penggunaan metode PQ4R (preview, question, read, reflect, recite,
dan review)
· Strategi-strategi
pengaturan, yaitu mempelajari materi dengan menyusun kerangka yang teratur dari
materi tersebut.
· Strategi-strategi
metakognitif, meliputi kemampuan siswa untuk menentukan tujuan belajar,
memperkirakan n keberhasilan pencapaian tujuan itu, dan memilih alternatif
untuk mencapai tujuan itu.
· Strategi-strategi
afektif, yaitu teknik yang digunakan siswa untuk memusatkan dan mempertahankan
perhatian, mengendalikan kemarahan dan menggunakan waktu secara efektif.
3. Informasi Verbal
Informasi verbal adalah
informasi yang diperoleh dari belajar di sekolah, kata-kata yang diucapkan
orang, membaca, radio, televisi, dan media yang lain.
4. Sikap-sikap
Sikap-sikap yang umum
biasanya disebut dengan nilai. Sikap-sikap ini ditujukan pada perilaku-perilaku
sosial seperti kata-kata kejujuran, dermawan, dan istilah-istilah lain yang
lebih moralitas.
5. Keterampilan-keterampilan motorik
Keterampilan motorik
tidak hanya meliputi kegiatan fisik, tetapi jugakegiatan-kegiatan motorik yang
digabungkan dengan kegiatan-kegiatan intelektual, misalnya membaca dan menulis.
2.2.2 Kejadian-kejadian
Belajar
Bertitik tolak dari model
belajarnya, yaitu model pemrosesan-informasi, Gagne mengemukakan delapan fase
dalam satu tindakan belajar (learning act). Fase-fase itu merupakan
kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa (yang belajar)
atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam
pikiran siswa menunjukkan satu tindakan belajar menurut Gagne. Setiap fase diberi
nama, dan di bawah masing-masing fase terlihat satu kotak yang menunjukkan
proses internal utama, yaitu kejadian belajar, yang berlangsung selama fase
itu. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan di bawah ini.
1. Fase Motivasi (motivatim phase)
Siswa (yang belajar) harus diberi motivasi
untuk belajar dengan harapan, bahwa belajar akan memperoleh hadiah. Misalnya,
siswa-siswa dapat mengharapkan bahwa informasi akan memenuhi keingintahuan
mereka tentang suatu pokok bahasan, akan berguna bagi mereka atau dapat
menolong mereka untuk memperoleh angka yang lebih baik.
2. Fase Pengenalan (apperehending phase)
Siswa harus memberikan perhatian pada
bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar
akan terjadi. Misalnya, siswa memperhatikan aspek-aspek yang relevan tentang
apa yang ditunjukkan guru, atau tentang ciri-ciri utama dari suatu bangun
datar. Guru dapat memfokuskan perhatian terhadap informasi yang penting,
misalnya dengan berkata: “Perhatikan kedua bangun yang Ibu katakan, apakah ada
perbedaannya”. Terhadap bahan-bahan tertulis dapat juga melakukan demikian
dengan menggaris-bawahi kata, atau kalimat tertentu, atau dengan memberikan
garis besarnya untuk setiap bab.
3. Fase Perolehan (acquisition
phase)
Bila siswa memperhatikan informasi yang
relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran. Informasi yang disajikan,
sudah dikemukakan dalam bab-bab terdahulu, bahwa informasi tidak langsung
disimpan dalam memori. Informasi itu diubah menjadi bentuk yang bermakna yang
dihubungkan dengan informasi yang telah ada dalam memori siswa. Siswa dapat
membentuk gambaran-gambaran mental dari informasi itu, atau membentuk
asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama. Guru dapat memperlancar
proses ini dengan penggunaan pengaturan-pengaturan awal (Ausubel. 1963), dengan
membiarkan para siswa melihat atau memanipulasi benda-benda, atau dengan
menunjukkan hubungan-hubungan antara informasi baru dan pengetahuan sebelumnya.
4. Fase Retensi (retentim phase)
Informasi
yang baru diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori
jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui pengulangan kembali (rehearsal),
praktek (practice), elaborasi atau lain-lainnya.
5.
Fase Pemanggilan (recall)
Mungkin
saja kita dapat kehilangan hubungan dengan informasi dalam memori jangka
panjang. Jadi bagian penting dalam belajar ialah belajar memperoleh hubungan
dengan apa yang telah kita pelajari, untuk memanggil (recall) informasi yang
telah dipelajari sebelumnya. Hubungan dengan informasi ditolong oleh organisasi
materi yang diatur dengan baik dengan mengelompokkan menjadi kategori-kategori
atau konsep-konsep, lebih mudah dipanggil daripada materi yang disajikan tidak
teratur. Pemanggilan juga dapat ditolong, dengan memperhatikan kaitan-kaitan
antara konsep-konsep, khususnya antara informasi baru dan pengetahuan
sebelumnya.
6. Fase Generalisasi
Biasanya
informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat diterapkan di luar konteks
dimana informasi itu dipelajari. Jadi, generalisasi atau transfer informasi
pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar. Transfer dapat
ditolong dengan meminta para siswa menggunakan keterampilan-keterampilan
berhitung baru untuk memecahkan masalah-masalah nyata, setelah mempelajari
pemuaian zat, mereka dapat menjelaskan mengapa botol yang berisi penuh dengan
air dan tertutup, menjadi retak dalam lemari es.
7. Fase Penampilan
Para
siswa harus memperlihatkan, bahwa mereka telah belajar sesuatu melalui
penampilan yang tampak. Misalnya, setelah mempelajari bagaimana menggunakan
busur derajat dalam pelajaran matematika, para siswa dapat mengukur besar
sudut. Setelah mempelajari penjumlahan bilangan bulat, siswa dapat menjumlahkan
dua bilangan yang disebutkan oleh temannya.
8. Fase Umpan Balik
Para
siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka, menunjukkan
apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.Umpan balik
ini dapat memberikan masukan pada mereka penempilan yang berhasil.
2.2.3 Kejadian-kejadian
Instruksi
Menurut Gagne bukan hanya
guru yang dapat memberikan instruksi; kejadian-kejadian instruksi dapat pula
diterapkan pada belajar penemuan, belajar di luar kelas atau belajar di dalam
kelas. Tetapi kejadian instruksi yang dikemukakan Gagne merupakan
kejadian-kejadian instruksi yang terjadi pada guru ketika menyampaikan
pelajaran pada sekelompok siswa.
Yang termasuk dalam
kejadian-kejadian instruksi tersebut antara lain adalah:
1. Mengaktifkan motivasi
Kejadian ini merupakan
langkah pertama dalam setiap pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan
tujuan memberikan motivasi belajar pada siswa.
2. Memberi
tahu tujuan-tujuan belajar
Pada langkah kedua ini
guru menyampaikan tujuan belajar agar siswa mengetahui latar belakang
penyampaian materi serta mengetahui apa yang akan dipelajari. Tahap ini
biasanya dirumuskan dengan tujuan instruksional khusus/tujuan pembelajaran
3. Mengarahkan
perhatian
Gagne mengemukakan dua
bentuk perhatian yaitu perhatian yang berbentuk stimulus dan perhatian yang
berbentuk persepsi selektif.
4. Merangsang
ingatan
Mengingat pelajaran yang
telah lampau dengan cara pemberian kode pada informasi yang berasal dari memori
jangka pendek. Guru dapat melakukannya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan
yang merupakan suatu pengulangan.
5. Menyediakan
bimbingan belajar
Bimbingan belajar ini
dimaksudkan untuk memperlancar masuknya informasi ke memori jangka panjang.
Dapat dilakukan dengan mengaitkan informasi baru pada pengalaman siswa.
6. Meningkatkan
retensi
Retensi atau bertahannya
materi dapat dilakukan dengan banyak kali pengulangan terhadap materi tersebut
7. Membantu
transfer belajar
Tujuan transfer belajar
ialah menerapkan apa yang telah dipelajari pada situasi baru. Pada transfer
belajar diperlukan penguasaan konsep-konsep, fakta-fakta,
keterampilan-keterampilan oleh para siswa
8. Mengeluarkan penampilan dan memberikan umpan balik
Guru memberikan
kesempatan sedini mungkin pada siswa untuk memperlihatkan hasil belajar mereka,
agar dapat diberi umpan balik, sehingga pelajaran selanjutnya berjalan dengan
lancar.
BAB III
PENUTUP
3.1Kesimpulan
Kata taksonomi diambil
dari bahasa Yunani yaitu “tassein”
yang berarti untuk mengklasifikasi dan “nomos”
yang berarti aturan. Taksonomi dapat diartikan sebagai klasifikasi berhirarki
dari sesuatu, atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Semua hal yang bergerak,
benda diam, tempat, dan kejadian, sampai pada kemampuan berfikir dapat
diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi. Pendidikan lebih daripada
pengajaran, karena pengajaran sebagai suatu proses transfer ilmu belaka,
sedang pendidikan merupakan transformasi
nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya.
Perbedaan pendidikan dan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap
pembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan
keahlian.
Taksonomi pendidikan
lebih dikenal dengan sebutan “Taksonomi Bloom”. Taksonomi ini pertama kali
disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan. Dalam pendidikan, taksonomi
dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan
pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan
psikomotor.
Selain itu Gagne juga
mengemukakan pendapatnya mengenai pembelajaran, menurutnya pembelajaran adalah
seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil
transformasi rangsangan yang berasal dari persitiwa eksternal di lingkungan
individu yang bersangkutan (kondisi) artinya proses pembelajaran tidak hanya di
dalam satuan atau lembaga pendidikan saja tetapi sebenarnya pembelajaran
berasal dari lingkungan sehari-hari kita.
3.1
Saran
Pendidikan sangat penting di era modern ini. Maka untuk menempuh
pendidikan yang sukses perlu adanya teknik belajar dan pembelajaran yang baik
dan menarik agar mereka yang belajar memiliki jiwa semangat tinggi untuk terus
belajar dan menjadi generasi bangsa yang cerdas. Kami juga berharap semoga
makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan kami berharap kritik dan saran yang
bersifat positif untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin , M.Z. (2012). Taksonomi Bloom, Konsep dan Iplikisinya bagi
Pendidikan Matematika. Online. Tersedia
: http://www.masbied.com/2010/03/20/taksonomi-bloom-konsep-dan-implikasinya-bagi-pendidikan-matematika/. Diakses 09 Oktober 2014
Dahara,Ratna wilis. 2006 . Teori-Teori
Belajar Dan Pembelajaran .Bandung.Erlangga.
Sagala,Syaiful.2010 . Konsep
Dan Makna Pembelajaran . Bandung . Alfabeta.
Wiranataputra,Udin.S.dkk.2007. Teori Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta .Universitas
Terbuka.
Leriva. (2012). Taksonomi Bloom. Online. Tersedia:
http://www.leriviaa.blogspot.com/2012/10/taksonomi-bloom.html. Diakses 09 Oktober 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar